Langsung ke konten utama

Postingan

Kapan Hilangnya?

Pak polisi di hadapan menanyakan kapan KTP saya hilang. Untunglah setelah beberapa detik berlalu dia tidak melontarkan pertanyaan kedua (dalam prediksi saya), dimana KTP saya hilang. Keduanya adalah pertanyaan kurang berguna bagi siapapun yang kehilangan surat pentingnya. Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan siapapun, kehilangan juga bukan hal yang dapat dengan mudah kita tahu kapan dan dimana terjadi. Sekalipun kita merasa sedih karena perginya orang kesayangan, agaknya tetap sulit untuk tahu kapan rasa kehilangan itu bermula. Dan dimana dapat ditemukan hal yang membuat kita tak kehilangan lagi. Di pemakaman, di hadapan foto, atau di hamparan rerumputan halaman rumah tempat kami biasa bermain. Saya tidak akan menemukannya lagi. Bila terpaksa harus dijabarkan waktu yang menjadi batas antara rasa memiliki dan rasa kehilangan –selayaknya bila ditanyai polisi- jawabannya adalah malam hari. Karena setelah bangun di pagi hari kita akan menyadari bahwa yang terjadi bukanlah...

Cinta Ideologis

S aya tidak sedang bercerita te n tang sebuah mahzab atau gagasan besar hingga membawa sebuah tulisan dengan embel-embel ideologis. Saya justru sedang ingin bercerita tanpa berpikir dan mengikuti kemana jari-jari ini akan menuntun bola mata. Tentang seseorang yang membuat saya bisa memikirkannya kapan saja. Ia dapat ditemukan di sela lagu-lagu favorit, dalam hembusan angin sore yang teduh, atau bahkan ketika lamunan saya dibangunkan oleh suara ukulele pengamen jalanan. Setiap kali bahagia atau sedih, saya tidak punya pertimbangan apapun untuk mengadu padanya. Walau tanggapannya tak selalu hangat, tetapi tidak pernah kapok untuk membajirinya dengan berbagai cerita panjang. Setiap harinya. Pada Rabu lalu saat membuka file chat history BBM beberapa tahun ke belakang, saya makin menyadari kedermawanannya. Dukungan, candaan, dan nasihat harian tulus yang sudah ada disana sejak saya masih egois dalam mencintainya.  Memori pun berputar mundur mengingat indahnya s...

Untitled

Sudah sekitar tiga bulan ini saya kembali tinggal bersama orang tua –pasca pindah ke apartemen bersama suami-. Usia kehamilan yang muda membuat saya tidak sekuat dulu lagi untuk berdesakan di kereta listrik setiap pagi dan sore, sedangkan pergi ke kantor dengan kendaraan pribadi dari apartemen di Kalibata sungguhlah buang waktu. Selain itu, Riski cukup intens bepergian keluar kota sehingga cukup nelangsa rasanya saat muntah di pagi hari saya harus menolong diri sendiri untuk menegakkan kepala dari wastafel. Kurang lebih tiga bulan saat itu saya tinggal berdua dengan Riski di sebuah ruangan 30 meter persegi dengan segala benda mini di dalamnya. Sebentar sekali ya, lha wong menikah saja baru tujuh bulan.  Enak juga rasanya pindah ke rumah orang tua lagi, setiap harinya bisa lebih fokus berjibaku dengan urusan kantor, yayasan, main sama teman, baca buku, dan merenungkan ide buka usaha –yang tidak dapat dilakukan secara bersamaan kala tinggal di apartemen-. Bagaimana ...

Sebuah Tempat yang Jauh, Di Minang Sana (bagian pertama)

Bapak Asmi Ahmad, orang yang sama sekali tidak saya kenal. Ia pergi sebelum kami sempat bertemu. Mendadak ia membuat saya berpikir lama seraya menangis sesekali di pergantian tahun ini. Seorang calon insinyur dari Universitas Indonesia yang tidak punya kesempatan meraih gelar kesarjanaannya. Namun, ia patri kuat semangat bagi penerusnya untuk kembali ke kampus itu. Setiap pagi ia bangunkan Si Bungsu dengan suara cukup menggelegar, “Ayo bangun, bagaimana mau masuk UI kalau tidak biasa bangun pagi!” I a membangunkan dengan kalimat itu bahkan sejak Si Bungsu belum belajar tentang baca tulis. Bila ada lima soal latihan yang diberikan Bu Guru, Si Bungsu harus mengerjakannya ditambah lima soal lain. Ia tuntun anaknya untuk selalu memberikan lebih dari yang orang lain minta. Ia pergi cepat, beberapa tahun sebelum melihat keturunannya sempat berjas kuning. Pada 2008 janji Si Bungsu tunai, namanya dalam daftar mahasiswa UI. Meski demikian Si Bungsu pada akhirnya tidak sekali...

Mengingatmu

Aku mengingatmu, di sela suara hak sepatu para pekerja wanita yang berangkat pagi Ketika kau menyiapkanku sarapan Aku mengingatmu, di siang seperti saat pulang sekolah Ketika kau menyambutku di rumah yang teduh Aku mengingatmu, saat malam membawa gelap Ketika kau menemaniku di samping meja belajar Aku mengingatmu, di setiap lari dan lompatan Ketika kau mengiringi langkah-langkah pertamaku dan selanjutnya Aku mengingatmu, di dalam sakit dan pulih Ketika kau tak jemu memberikanku segelas jus buah setiap pagi Aku mengingatmu, setiap waktu Tak hanya di hari ibu, Ibuku… Kebon Sirih, 22 Desember 2014