Minggu, 06 November 2011

Saya pernah mengikuti sebuah workshop kesusastraan yang salah satu acaranya tentang bedah sebuah buku (yang saya lupa judulnya) karena penulis belum mempublikasikan buku dalam bahasa Inggris. Hanya tersedia yang berbahasa Norwegia, dan saya tidak sedikit pun memahami tentangnya.

Intinya, buku itu berkisah tentang perjalanan seorang anak dan ibu menanti detik kematian. Kematian si anak. Baik genre maupun cerita di buku ini memang biasa saja. Tidak terlalu unik. Tetapi si penulis yang impresif membuat saya tertarik mengikuti bedah buku tersebut. Si penulis itu adalah ibu anak, yang sudah meninggal 7 tahun lalu.

Sampul buku itu bergambarkan sepasang sepatu balet yang pitanya terjuntai seperti habis dipakai. Gambar itu sangat filosofis bagi sang ibu. Ia menggambarkan ‘siapa anakku’ di awal buku. Bahwa anaknya adalah remaja populer yang multi talenta, ia sangat sehat, ia penari balet yang tubuhnya sangat lentur. Gadis tersebut juga memiliki banyak teman yang rajin menjenguknya, dalam sehat dan sakit.

Suatu hari, sepulang les balet, si anak mengaku pusing. Ia lantas istirahat sejenak, namun begitu bangun kepalanya masih sakit. Bersama sang ibu, di suatu malam, ia pergi ke dokter untuk periksa.

Tiada sedikit pun kekawatiran di hati mereka berdua akan diagnosis apa yang akan diutarakan dokter.

Setelah menjalani beberapa tes, dokter memanggil mereka berdua, tanpa sensor, tanpa menyembunyikan dari si anak. Tentunya, tetap dengan tedeng aling-aling.
“Anak Anda menderita kanker otak.”

Pernyataan itu membuat ruangan hening sejenak. Benar-benar sejenak. Setelahnya muncul suara mungil si anak mengatakan,
“Baiklah. Bisa kita pulang sekarang, Bu?”

Dalam perjalanan pulang, sang ibu kebingungan harus bicara apa lagi. Bingung pula harus merasa bagaimana. Ia hanya bergumam dalam hati. Kenapa Tuhan? Mengapa harus anakku? Mengapa harus gadis cantik ini? Anakku adalah gadis yang paling sehat dan bahagia, ini pasti lelucon bahwa ia menderita penyakit ganas itu.

Entah itu lelucon atau realita yang harus diterima. Anaknya sungguh-sungguh menderita kanker, dan dokter manapun menjadi bagian dari proses analisis hitung mundur masa hidupnya.

Begitu banyak elegi dalam proses menjelang kematian si anak. Walau jadi pintu dari banyak penyampaian hikmah, tetap saja, perjalanan itu tak mudah. Cerita ini tak mudah. Menjadi amat sulit karena si ibu adalah manusia, begitu pula si anak. Manusia yang manusiawi. Manusia yang tak mau kehilangan sesuatu yang berharga, terlebih sebagai bahan barter dari hikmah dari alasan yang tak mudah dimengerti.

Cerita tadi adalah intro. Selebihnya saya ingin menyampaikan sedikit renungan di Hari Idul Adha ini. Tentang Ibrahim. Bukan tentang soto sapi, opor, apalagi tongseng kambing. Siapapun sudah mengetahui tentang peristiwa yang melatar belakangi Idul Adha ini. Proses Ibrahim memenuhi panggilan Tuhan untuk menyembelih anaknya, dan seketika saat disembelih Ismail (anaknya) berubah menjadi sebentuk hewan ternak.

Prosesi itu menghasilkan dua buah manis, wujud cinta seorang hamba kepada penciptaNya dan Ismail ternyata tidak tersembelih. Bagaimanapun akhirnya, saya yakin untuk mengeksekusikan prosesi ini jauh lebih susah dari yang digambarkan di buku manapun tentang kisah nabi.

Entah sejak lama atau diawali di masa modern, pengorbanan dan keikhlasan sudah jadi barang mahal. Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk membicarakan bagaimana bila harus mengorbankan anak, memberi waktu dan beberapa meter spasi saja untuk penyeberang jalan jarang lakukan. Sesederhana itu sekaligus seberat itu sebuah wujud ikhlas bagi manusia.

Ash-Shaffaat 101-111

Ya, Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk golongan orang-orang yang saleh. Maka kami beri kabar gembira dengan seorang anak yang sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya. Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,” sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudia, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan pada orang-orang yang baik. Sesungguhnya ia masuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Bila seorang ibu dengan sangat berat mengetahui bahwa anaknya akan pergi di waktu yang ia tahu kapan, dan di saat ia masih hidup sehingga dapat menyaksikannya. Ibrahim justru diberi otoritas untuk memilih kapan waktu yang akan ia pilih. Otoritas yang tak membahagiakan. Di saat si ibu tadi merasa Tuhan sedang menyeluarkan lelucon yang tak lucu, Ibrahim justru mengitepretasikan komunikasi Tuhan melalu mimpinya sebagai sabda. Sabda yang akan dipenuhi sebagai wujud cintaNya. Ibrahim lebih super dari Superman, juga jauh lebih super dari Mario Teguh. Menyembelih anak yang ia diidam-idamkan setelah penantian yang lama.

Saat Idul Adha diwarnai dengan masak heboh-heboh masak opor atau makan sate kambing, di hari ini yang paling saya inginkan adalah memasang petujuk jalan baru bersimbol K atau I. Bila P artinya parkir, maka K artinya korban dan I artinya ikhlas. Paling tidak ikhlas untuk memberi kesempatan pengendara lain menyeberang terlebih dahulu.

Kita bukan seseorang yang terlalu hebat, maka memulai hal besar selalu dimulai dari yang kecil. Keikhlasan Ibrahim begitu tinggi derajatnya, tak mudah, tapi selalu ada tangga-tangga wujud keikhlasan kecil menuju kesana.

Senin, 31 Oktober 2011




Di ruang itu, terakhir kali kau berdiri, sepi yang pasti, dan aku menunggu kata-katamu, seperti peserta seminar kiat sukses, yang telah seribu kali mencoba, seribu kali gagal.

Lalu matilah lampu, dan semua jadi bayang-bayang. Cahaya yang lurus itu pasti tidak dari matamu yang semula juga, hanya ragu-ragu. Tak tahu, mana bayangku, mana bayangmu.

Ruang ini, jika tanpa kau dan aku, telah terbiasa dengan sepoi-sepi. Saat tak ada apa-apa, waktu tak singgah, dan ruang ini tak merasa ada yang sia-sia.

Mata yang haus, berlindung dari cahaya yang menipu, di balik kelopak yang memejam tak lengkap pejam, membuka tak sepenuh buka. Jauh melihat ke arah di sebalik kornea.

Kita bukanlah penyabar, tapi kita bisa untuk tidak bergegas. Kita bisa menghindar dari yang mengejar. Menunda yang datang tanpa tanda. Adakah yang tepat untuk sesuatu yang tak tepat?

Kalau nanti tak ada kisah kita lagi, waktu yang berperilaku kasar itu, akan menggerus kenangan tentangmu dari ingatanku. Juga aku dari ingatanmu? Bukankah - di hadapan waktu - kau sama saja: juga tak berdaya?

Dan terakhir ku ingat dari ruang itu adalah desis nafasmu. Seperti menahan sakit yang kau tahu, tak akan bisa kau menahannya. Aduh, demi siksa itu, seluka-luka, mengaduhlah. Sepedih-pedihnya.


(HASAN ASPAHANI: Lelaki yang Dicintai Bidadari)
gambar: www.sodahead.com

Jumat, 26 Agustus 2011


Sering sekali aku sulit mencari barang pribadi yang tercecer entah dimana. Dari pakaian, buku, sampai kaos kaki. Dalam pencarian tersebut malas rasanya untuk menelusuri keberadaan benda-benda tersebut. Ku tanya ibu dengan harapan ia tahu dimana mereka. Kadang dijawab, namun kadang ia hanya berkata, “Cari dulu, cari lagi…”


Dua dekade sudah hidup di dunia dengan berbagai romantisme dan problematika. Semoga kalimat tadi tidak terbaca sok tua, karena tiga tahun menuju seperempat abad ini ku rasa cukup pantas untuk mengatakan bahwa aku telah mengarungi begitu banyak cerita. Setiap hari, bulan, dan tahun, aku simpulkan berbagai makna dari perjalanan hidup. Berbagai keputusan ku ambil dengan segala pertimbangan tertentu, kadang juga sedikit sembrono. Sering sekali aku mencetuskan memoar-memoar yang mencengangkan. Dari tak ingin menikah, hingga ingin nikah muda. Dari ingin tua di Eropa hingga ingin mati di Papua.

Kadang aku juga merasa bahwa keangkuhan seringkali menggerakkan badanku selayaknya deru mesin yang memompa darah teramat keras, lalu kemudian membuatku begitu berenergi. Tak ayal pula, ia memusnahkan kemampuan kakiku melaju karena sibuk membanggakan diri seolah aku manusia paling mengerti dan begitu tinggi. Lagi-lagi, aku harus jatuh berkali-kali karena tongkat keyakinan yang ku bangun dan terpancang harus patah, tumbang, kandas lagi, berkali-kali.



Di setiap makna yang ku temukan, tentang bagaimana di hari-hari menuju lebaran orang kota sibuk antre kendaraannya di dalam pusat perbelanjaan untuk beli baju baru. Sedangkan di area pedesaan Papua sana ibu-ibu masih memperlakukan sore secara adil, sama dengan sore-sore lainnya, ngobrol sambil kunyah pinang dan menonton latihan voli. Tiada satupun yang ku rasa lebih layak dilakukan atau lebih membanggakan untuk dijalani. Saat di persimpangan antara cita-cita ingin merubah dunia dengan bergabung dengan international non government organization, atau memilih mengajari murid kelas tiga sekolah dasar belajar membaca. Tak ku temukan pula yang mana yang lebih mulia. Karena terlalu tak pantas aku menjustifikasinya. Berbeda bila ditanyai pertanyaan tersebut beberapa tahun lalu, pasti aku dapat dalam hitungan detik saja untuk menjawab dengan mantap diimbuhi alasan yang tampak logis.

Entah berapa tahun lagi Tuhan memberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan. Saat ini, aku merasa begitu banyak hal yang masih mengumpatkan diri dan malu-malu untuk keluar menampakkan tanda-tandanya di depan horizon pandangku. Mereka adalah kenyataan, yang menjadi sumber dari kesimpulan-kesimpulan penting. Saat hari menambah hari harusnya semakin ku dapat pemahaman yang lebih dewasa dan menyeluruh.

Aku bertambah sadar, bahwa cita-cita menjadi orang baik itu tak mudah. Padahal itulah cita-cita terbesarku dalam hidup. Baik memang memiliki banyak dimensi, namun setiap dimensi tersebut aku rasa hanya para malaikatlah yang tahu. Tak apalah andai memang tak jua menemukannya. Aku, seorang manusia yang barangkali tak mungkin jadi orang baik, namun aku ingin terus berusaha agar menjadi lebih baik. Terima kasih atas teman hidup, atas jalan-jalan yang telah memfasilitasiku menelusuri rambu-rambu kebaikan dan kebenaran. Sepertinya harus menuruti kata ibu untuk banyak hal yang lebih serius. Bagaimana caranya menjadi manusia yang sadar dan mengerti? Seperti apa manusia baik itu? Cari dulu, cari lagi...

Sabtu, 14 Mei 2011

Apa lagi?
Apa lagi yang masih kau tunggu?
Musim telah berganti, masa perlahan jadi silam
Yang kelam telah silam

Apa lagi?
Dan, siapa lagi yang kau tunggu?
Mereka sudah pergi, dia juga
Bersama surat-suratnya, bersama derai tawanya
Disertai cemooh atas kedurjanaanmu

Kapan lagi?
Kau akan muda seperti ini
Tubuhmu kokoh dan penuh keriangan
Pemikiranmu deras mengalir
Kawan-kawan sudah berteriak memanggil untuk main

Pada siapa?
Kau mengiba..
Jangan katakan tujuanmu tanpa nama
Tanpa yang satu ini, ku yakin hanya omong kosong
Sudah ku katakan, mereka telah pergi
Maka sudahlah…

Setiap pagi partikel lembut melewati pipimu dengan hangat
Begitu pula kiriman cahaya matahari sore
Malam yang kau tolak tak berhenti datang memetaforakan diam
Mengapa tatapanmu tetap kosong?

Manis, selesaikanlah urusanmu
Selama yang kau mau, tanpa batasan waktu
Tetapi, jangan pernah salahkan dirimu lagi
Mungkin, saat kau bangun kembali, ada perkara lain yang terlambat untuk kau pikirkan

Minggu, 06 Maret 2011

In the night that surrounded by sorrow, I lay down in my bed, feel the comfort of soft sheet. My parents lived so far away from here, but I know they’re happy there, so it’s okay to stay without them. My little sister that lived here, in the same place, not talk too much with me frequently. I declare, silent is my best friend, at least for this couple weeks. Everything were blended together, recently. Like a big hurricane, like a soft flow that drag me away somewhere. My faith, aim, passion, happiness, pride, conciousness, wrecked. Altough cheessy, I’m not afraid to say that I had the worst part in my life. bitterness that I cannot spit, sound that can’t voiced, stertorous that cruel cannot be taken out. Like savor the deepest loneliness and emptyness.

In my recent journey to west, but I’m not looking for that epic about ‘scripture’, I found some of my species that asked too much about anything, everything. Even about the world creature, Creator. Found an answer like count for maths and econometrics, with regression, and proving that looked. Kind a new horizon of thinking for me, but I don’t know why, I still love God for the most. In my rebellion and inquity to Him that often happen, I found a magnificient feeling that couldn’t describe by whatsoever thing. But the most simple thing I want to say, is that He makes me not afraid of anything, He makes me always able to stongly convince myself that everything will be okay. He guide me to be a better person without any direct judgement, He accept me for whoever I am. His almighty let me do love him in a simple way, but reversely He loves me with His enormous power.

Then, in the same journey, I went to library in Scandinavian with my ‘ideological’ friend that pursued me to read commentation of Quran. He explained his melancholy feeling, unusually, that he’s one of the most logical person that I know.

On those lines of text, I forgot everything. My sorrow, dubiety, and vanity. It was too easy make me fascinated on the gorgeous writtings. I can fall in love like for first time when read the opening of many kinds of book. But I'm really sure, that I won’t fascinated by ‘the other’ opening, after that time.

This opening translated by Abdullah Yusuf Ali, I can pronounce it well in that native language from the time that I was 3 and I know the translation in Bahasa. Indeed, I can sing the song of that.



I always know that as Al-Fatihah, the frabjous opening.

The Opening

In the name of God, Most Gracious, Most Merciful.
Praise be to God, the Cherisher and Sustainer of the world
Most Gracious, Most Merciful
Master of the Day of Judgment.
Thee do we worship, and Thine aid we seek.
Show us the straight way,
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace,
those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.


I heart Allah
Jogjakarta, March 6 2011

Jumat, 07 Januari 2011

Aku ingin menjadi apa yang Dick Hartono pernah katakan, musafir yang mencari dan memberi arti kepada segala sesuatu yang dijumpainya. Tidak silau oleh apa yang nampak, tetapi menerangkan apa yang tersembunyi di belakang gejala-gejala yang dicerapnya dengan panca indera.


Orang Jawa selalu suka klenik, dan malam ini ibu sedang bercerita tentang sakralnya 1 Sura (Muharram). Sebenarnya ini bukan inti dari ceritaku, pengantar saja, tentang kegiatan ibuku sebelum bapak pulang.

Malam ini 60 hari sebelum aku lulus SMA, entah mau dibawa kemana cerita hidupku selanjutnya. Jadi satpam seperti bapak, tukang cuci seperti ibu, atau kerja keras untuk cari beasiswa lanjut sekolah S1.

“ Nduk, kamu mau jadi apa kalo sudah dewasa?” suara ibu menyela ruang pikirku.

“Jadi pejabat enak, Nduk… Kerjanya enteng, hidupnya sejahtera.” Lanjut bapak.

Aku hanya bisa diam sambil lihat berita di televisi. Isinya sama, hanya beda kasus. Lagi-lagi ada saja yang tentang pejabat korupsilah, oportunis, dan lainnya. Seakan-akan, hidup mereka serupa bagian-bagian dalam sinema elektronik. Kata-kata kemarin dan sekarang diubah semaunya, kadang pura-pura lupa, kadang berlagak gila. Perbuatan dan pencitraan tidak sejalan, seakan-akan hidup adalah drama.

Mendadak, aku teringat pada seorang paman dari Solo. Dia orang hebat, pintar bukan main, idealis juga. Selalu bikin aku salut.

Tapi itu dulu, sekarang kepandaian paman seakan terbeli, entah oleh kekuasaan atau materi. Paman tetap pintar, tambah terkenal, tapi tidak lagi memegang idealismenya. Bagaikan menjilat ludah muncratan makiannya kepada beberapa pejabat publik. Sekarang kerjaannya serupa jubir dan selalu manthuk-manthuk di belakang pejabat itu di hadapan kamera.

Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, kantukku datang. Malam ini, lagi-lagi aku gundah. Gambaran dan langkah menuju masa depan masih abu-abu. Berpikir, aku memang akan berlari, berlajar yang keras, mengejar hidup yang lebih baik. Tapi apalah artinya kalau setelah jadi orang yang mumpuni, aku jadi layu, oleh gencatan dilema idealisme dan keserakahan. Rasanya takut sekali menodai segala pikiran teduhku hari ini.

Dalam mata terpejam, aku berdoa. Semoga bisa jadi orang yang berguna bagi negara, seperti pamanku. Dan semoga orang-orang seperti bapak ibuku, tidak akan menjadi korban pengkhianatanku kelak, dengan segala kepandaian serupa paman.

Kabulkan doa malam ini Tuhan, amin…

Kamis, 07 Oktober 2010



Menulis surat

Tak terlalu digemari lagi, tapi masih sering aku menulisnya. Tak banyak beda antara baca dan tulis, sampai semua kata jadi kehilangan arti. Terlalu sering, terlalu banyak.

Setiap surat memiliki amplopnya, Pak Pos menunggu untuk antarkan, dan penerima menunggu si bapak itu, mengintip lewat jendela kamar setiap pagi.

Utopia penulis surat yang melankolis.

Nyatanya. Tak semua nama yang dituju berniat membaca surat yang tak lebih berharga dari kertas yang tergeletak dengan beberapa goresan tinta. Kedua, kalaupun baca, mereka belum tentu paham benar apa maknanya, jangan-jangan kadang surat itu dikira salah alamat. Kasihan Pak Pos.

Tapi aku tetap menulis, lagi dan lagi, sampai habis yang ada dalam hati, tumpah-tumpah menggenangi ruang literasi.

Siapapun penerimanya, ku cukupkan untuk hanya membuat surat itu. Menulisnya dan simpan rapat dalam amplop jingga. Tak ada yang tahu.

Kedalamannya. Pesan yang paling ingin ku katakan ada di dalam surat yang tak pernah sampai.
 

Copyright 2010 Catatan Kecil.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.