Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Hidup yang Tak Semarak

Dari kecil saya hidup di rumah yang ramai bersama tiga saudara kandung, mama, dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika masih tinggal di Jogja, rumah kami berdekatan dengan simbah, pakdhe, dan budhe, sehingga sepi dan sendiri bukan hal yang biasa buat saya. Hal lain yang cukup dominan dalam keluarga saya adalah karakter super ekspresif. Bila sedang seru bercerita, mama saya bisa mencubit gemas lawan bicaranya. Begitu pun kalau ada anak bayi yang makannya banyak, pasti dengan ekspresif dibilang, “wah pintar” dengan mata berbinar dan nada agak meninggi. Ini bukan tulisan parenting, tentang bagaimana mengatasi anak susah makan atau pro dan kontra dalam memuji anak. Tradisi itulah yang membuat saya bisa dibilang orang yang sangat bersemangat dan selalu menunggu momen-momen bahagia dengan segala semaraknya.
Barulah ketika mengenal Riski, saya paham bahwa hidup tak semarak itu bisa jadi menyenangkan. Suami saya ini cukup introvert sekalipun ia juga suka b…

Postingan Terbaru

Untuk Agis

The letters that have never been replied

Rekomendasi yang Terabaikan*

NEW YORK (catatan perjalanan AS bagian 7 - akhir)

BERTEMU PAK ERWIN (catatan perjalanan AS bagian 6)

DINAS ATAU JALAN-JALAN (catatan perjalanan AS bagian 5)

SALAH JALAN (catatan perjalanan AS bagian 4)

EKONOMI DAN AKUNTANSI (catatan perjalanan AS bagian 3)

PELAJARAN DARI THE FED ST. LOUIS (catatan perjalanan AS bagian 2)

24 JAM PERTAMA (catatan perjalanan AS bagian 1)