Langsung ke konten utama

Postingan

Merayakan Rasa Takut

Seorang anak bersembunyi di balik selimut agar tidak melihat lampu yang padam Seorang janda memilih diam di rumah karena enggan difitnah macam-macam Sekelompok rusa berlarian menggambarkan rasa takutnya akan pertanda alam Semua ketakutan Semua menghindari sumbernya Mana bisa berjumpa Bagaimana kau bisa menghalau, apalagi menakhlukkannya Menemuinya saja kau tak mau Mereka tak salah Hanya memilih pasrah Dunia yang memberikan cap di kening mereka tentang hal yang selalu membuat resah Bahwa mereka tidak akan mampu mengatasinya Si rasa takut Aku pun di lingkaran yang sama Harusnya suara-suara itu tak ada Mereka memang tak ada Hanya kita yang salah karena mengiyakan Bahwa kita tak bisa Bahwa kita akan kalah Bahwa kita pasti menderita Dan suara dari diri kita itulah yang paling berbahaya Kita kerap enggan menerima Hadapi saja Diri bisa merayakan rasa takut 

Hidup yang Tak Semarak

Dari kecil saya hidup di rumah yang ramai bersama tiga saudara kandung, mama, dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika masih tinggal di Jogja, rumah kami berdekatan dengan simbah, pakdhe, dan budhe , sehingga sepi dan sendiri bukan hal yang biasa buat saya. Hal lain yang cukup dominan dalam keluarga saya adalah karakter super ekspresif. Bila sedang seru bercerita, mama saya bisa mencubit gemas lawan bicaranya. Begitu pun kalau ada anak bayi yang makannya banyak, pasti dengan ekspresif dibilang, “wah pintar” dengan mata berbinar dan nada agak meninggi. Ini bukan tulisan parenting , tentang bagaimana mengatasi anak susah makan atau pro dan kontra dalam memuji anak . Tradisi itulah yang membuat saya bisa dibilang orang yang sangat bersemangat dan selalu menunggu momen-momen bahagia dengan segala semaraknya. Barulah ketika mengenal Riski, saya paham bahwa hidup tak semarak itu bisa jadi menyenangkan. Suami saya ini cukup introvert sekalipun ia ju...

Untuk Agis

Agis, apa kabarmu, Nak? Sudah hampir tiga bulan ibu enggak kelonin Agis, enggak nemenin Agis main lego, enggak bikinin Agis sarapan. Ibu harap Agis sehat. Ibu harap Agis bahagia disana. Nak, sepertinya ibumu lebih lemah darimu. Setiap ibu telpon Agis, ibu tak tahan untuk tidak menangis. Sebaliknya, Agis terus ceria dan menghibur ibu. Berkali-kali ibu berpikir, apakah ini jalan yang benar-benar ibu inginkan. Dan, apakah ibu akan kuat menjalani ini sampai akhir. Dan bila sebaliknya, Agis disini menemani ibu kuliah tanpa ditemani ayah, apakah kita bisa? Wallahu alam. Setiap hari ibu lihat foto Agis, video Agis, berjam-jam. Ibu ingat setiap malam kita menyanyi bersama. Bahkan saat ini setiap ibu telepon Agis selalu minta dinyanyikan lagu Snow Man. Ibu senang setiap diminta begitu karena tandanya Agis rindu Ibu. Rindu, namun usiamu terlalu muda untuk gundah dan menangisi apa yang tersembunyi di dalam hati. And I know, you always smarter than I have ever been . S...

Rekomendasi yang Terabaikan*

Dalam film The Book Thief , diceritakan bahwa suatu pagi, Liesel, tokoh utama yang berusia tak lebih dari 9 tahun, melihat reklame di jalan dan bertanya kepada ayahnya, “ What’s an accountant ? ” . Dengan singkat sang ayah menjawab , “ Something we will never need ”. Pernyataan itu sangat kontradiktif dengan jalan cerita pada film The Shaws h ank Redemption yang mengisahkan si pemeran utama, Andy Dufesne (diperankan oleh Tim Robbins), yang mampu menarik simpati petugas penjara dan akhirnya terbebas dan  hidup sangat sejahtera setelah itu , karena kelihaiannya membuat dan menganalisis rencana keuangan. Kutub yang berlawanan pada dua cerita tersebut ada hubungannya dengan operasi tangkap tangan (OTT) pejabat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) beberapa pekan lalu. Setiap tahun BPK diaudit oleh kantor akuntan publik (KAP) yang diajukan oleh BPK dan Menteri Keuangan yang kemudian di...

NEW YORK (catatan perjalanan AS bagian 7 - akhir)

Persinggahan pertama dan terakhir saya adalah di kota New York. Kota favorit saya saat ini. Favorit banget ! Saya merasa semua hal disana terasa tepat. Dari tempat saya menginap, saya bisa melihat World Trade Centre  menjulang dengan adidaya-nya, AS yang dulu saya kenal. Walaupun tidak punya waktu untuk benar-benar seight seeing , saya bela-belain bangun subuh sebelum ke bandara supaya sempat lihat Wallstreet. Jalan itu sama sekali bukan dream working place saya, tetapi ada rasa  magis ketika melangkah di hadapan banyak kejadian besar dalam perekonomian dunia berlangsung. Di New York saya hanya sempat diskusi di Kantor Perwakilan BI dan pergi ke factory outlet di Woodburry (agak jauh sih dari New York). Dalam perjalanan ke Woodburry saya melewati Sungai Manhattan, Brooklyn Bridge, dan melihat lanskap New York dari kejauhan. Cantik sekali, saya sampai mau menangis. Bahkan matahari seolah selalu ingin bertengger di posisi terbaik untuk memberikan sinar paripurnanya. ...

BERTEMU PAK ERWIN (catatan perjalanan AS bagian 6)

Di dinas kemarin, bagian yang menurut saya penting, selain membuat resume diskusi dengan bank sentral dan ekonom adalah sesi ngobrol dengan Bapak-bapak. Ini maksudnya bukan Bapak-bapak yang ketemu di jalan terus ngobrol-ngobrol ya . Kebetulan saya adalah satu-satunya perempuan di rombongan kunjungan kerja kali ini. Sejujurnya, saya sering sekali mempersiapkan obrolan dengan orang yang baru dikenal. Kalau saya bisa, biasanya kepo dulu orangnya seperti apa, latar belakangnya dari mana, supaya saya bisa menciptakan obrolan berbobot yang membuatnya tertarik. Bukannya mau fake , tapi menurut saya sayang sekali kalau kita bisa bertemu dengan orang hebat tetapi menyia-nyiakannya hanya dengan cheap talk seperti, “Pak, anaknya ada berapa?” atau “ohh anak Bapak tiga, ada yang sudah nikah?” atau “Bapak aslinya mana?” Enggak jarang juga sih saya bahas hal seperti itu, tetapi dalam rangka revolusi mental saya harus berubah (terJokowi 2017 hahaha ). Dalam perjalanan ini saya sangat terkesan ...