Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Minggu

Dalam Upacara Perpisahanku

Malam itu puluhan orang berkumpul, di ruang yang tak punya tembok, atap, lantai, maupun jendela Mereka tidak masuk lewat pintu, tetapi dari sesuatu bernama tautan   Sambutan demi sambutan, cerita indah hingga sedih, saut menyaut Ingin rasanya aku menanggapi tiap kisah yang mereka lontarkan Misalnya, ketika ada yang bilang aku orang yang tegar -- padahal tidak jarang aku mengeluh dan menangis diam-diam Atau.. Ketika ada yang mengatakan masih punya utang janji padaku, rasanya ingin kutagih tunai malam itu juga   Tapi apa, aku tak ada..  Di daftar nama peserta itu, namaku tak nampak Di layar itu, fotoku tak terlihat Ternyata begini rasanya bisa menyembunyikan tawa dan tangis tanpa harus menutup  microphone  atau kamera -- yang biasa aku lakukan beberapa bulan ini, setiap hari   Dalam upacara tersebut, tidak ada lagi kesal.. Tak ada lagi benci.. Tuntas sudah yang belum selesai Yang ada hanya rasa sayang, rasa syukur aku pernah bertemu mereka dan mencipta banyak...

Merayakan Rasa Takut

Seorang anak bersembunyi di balik selimut agar tidak melihat lampu yang padam Seorang janda memilih diam di rumah karena enggan difitnah macam-macam Sekelompok rusa berlarian menggambarkan rasa takutnya akan pertanda alam Semua ketakutan Semua menghindari sumbernya Mana bisa berjumpa Bagaimana kau bisa menghalau, apalagi menakhlukkannya Menemuinya saja kau tak mau Mereka tak salah Hanya memilih pasrah Dunia yang memberikan cap di kening mereka tentang hal yang selalu membuat resah Bahwa mereka tidak akan mampu mengatasinya Si rasa takut Aku pun di lingkaran yang sama Harusnya suara-suara itu tak ada Mereka memang tak ada Hanya kita yang salah karena mengiyakan Bahwa kita tak bisa Bahwa kita akan kalah Bahwa kita pasti menderita Dan suara dari diri kita itulah yang paling berbahaya Kita kerap enggan menerima Hadapi saja Diri bisa merayakan rasa takut 

Hidup yang Tak Semarak

Dari kecil saya hidup di rumah yang ramai bersama tiga saudara kandung, mama, dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika masih tinggal di Jogja, rumah kami berdekatan dengan simbah, pakdhe, dan budhe , sehingga sepi dan sendiri bukan hal yang biasa buat saya. Hal lain yang cukup dominan dalam keluarga saya adalah karakter super ekspresif. Bila sedang seru bercerita, mama saya bisa mencubit gemas lawan bicaranya. Begitu pun kalau ada anak bayi yang makannya banyak, pasti dengan ekspresif dibilang, “wah pintar” dengan mata berbinar dan nada agak meninggi. Ini bukan tulisan parenting , tentang bagaimana mengatasi anak susah makan atau pro dan kontra dalam memuji anak . Tradisi itulah yang membuat saya bisa dibilang orang yang sangat bersemangat dan selalu menunggu momen-momen bahagia dengan segala semaraknya. Barulah ketika mengenal Riski, saya paham bahwa hidup tak semarak itu bisa jadi menyenangkan. Suami saya ini cukup introvert sekalipun ia ju...

Mengingatmu

Aku mengingatmu, di sela suara hak sepatu para pekerja wanita yang berangkat pagi Ketika kau menyiapkanku sarapan Aku mengingatmu, di siang seperti saat pulang sekolah Ketika kau menyambutku di rumah yang teduh Aku mengingatmu, saat malam membawa gelap Ketika kau menemaniku di samping meja belajar Aku mengingatmu, di setiap lari dan lompatan Ketika kau mengiringi langkah-langkah pertamaku dan selanjutnya Aku mengingatmu, di dalam sakit dan pulih Ketika kau tak jemu memberikanku segelas jus buah setiap pagi Aku mengingatmu, setiap waktu Tak hanya di hari ibu, Ibuku… Kebon Sirih, 22 Desember 2014

Prelude in E Minor

Sambil memutar Prelude in E Minor: Bella memintaku mengirim foto untuk kartu ucapan perpisahan Mbak Rizka, ia akan pergi dari kantor ini. “Aku lagi di jalan, kalau aku udah di kantor kukirim ya.” Kubuka facebook sebagai tempat yang menyimpan paling banyak foto. Sedikit pusing memilih foto mana yang aku aku kirimkan, ada yang tampak gemuk, tampak kumal, tidak menarik, padahal memang begitulah perawakanku sebetulnya. Kunyalakan iPod lalu kupilih Chopin Prelude in E minor, yang kuputar berkali-kali dikarenakan suasana hatiku sedang sendu. Sambil menarik kursor ke arah bawah kubuka foto-foto lama yang sampai aku sudah lupa kapan peristiwa di dalamnya terjadi. Tiba-tiba kutemukan fotoku tersenyum ceria di laboratorium komputer kampus saat membantu Pak Rimawan bereksperimen, ada pula foto saat tubuhku tersungkur di pelataran rumah Doyo Lama Papua, foto masak bersama teman-teman di rumah Gerry, dan lainnya. Semuanya ekspresi senyum. Entah apa yang kurasakan waktu itu, apakah memang bah...

Catatan atas Catatan Wiji Thukul

Catatan Lagi Kau tangkap aku Kucatat Lagi Kau punter tanganku Kucatat Lagi Kamu rotan tempurung kepalaku Kucatat Lakukan Sampai aku beludah darah Biar terkumpul bukti Lakukan Di depan orang yang ramai Tunjukkan kepada mereka Pistol dan pentungan kalian Biar mereka lihat sendiri Lagi Kau aniaya aku Kucatat Tubuhku adalah bukti Ketika kau pukul berkali-kali Orang ramai melihat sendiri Kucatat Aku terus mencatat (Wiji Thukul, 6 Mei 1955) Puisi ini merupakan salah satu dari puluhan lainnya yang kubaca dari bonus majalah Tempo beberapa pekan lalu. Mendadak seorang Wiji Thukul jadi inspirasiku. Ia adalah aktivis ceking yang tak ada garang-garangnya sama sekali, tetapi sangat menakutkan bagi pemerintah orde baru. Hanya karena kata-katanya yang lebih tajam dari pisau asahan dan lebih ganas dari gigitan harimau. Ia selalu dihadiahi dengan ancaman akan penangkapan, tetapi ...

Terima Kasih

Hey, kamu harus bangun. Ini Minggu pagi. Jangan bergelayutan di kasurmu kelamaan. Aku tahu, aku tahu. Semuanya. Kesedihanmu, sakitmu, dan seberapa kuat kamu ingin berjuang. Tak sekedar bangkit. Sudah kamu jalani medan berkerikil yang tak mudah, berlari mengejar keretamu di rel-rel besi karatan. Tak lebih dari cukup, tapi bukan juga terlalu kurang. Terima kasih, itu saja yang perlu kau katakan. Bukan pada siapapun. Tentunya kau sudah haturkan ribuan terima kasih pada mereka yang baik hatinya. Ucapkan terima kasih pada dirimu, pada hatimu. Terima atas kekuatan di balik lemahmu. Yakinlah kau tidak lemah, hanya perlu mengatur nafas sejenak. Bangunlah, ini Minggu pagi. Berbahagialah. gambar

Momen Terakhir

Beruntunglah mereka yang dapat menikmati seremonial maupun momen yang terakhir. Ada bakso ikan yang sangat enak di SD saya, harganya 250 rupiah saja. Setiap hari saya beli dua bungkus untuk dihabiskan kurang dari dua menit. Saking sukanya. Sampai sekarang saya masih suka memikirkan makanan itu, gurih bercampur pedas bakso kanji dengan bumbu kacangnya buat saya istimewa dan irreplaceable . Sepertinya saya tidak akan bisa makan camilan magis itu lagi. Selain karena SD saya ada di kota yang jauh dari tempat tinggal saya sekarang, bakso ikan buatan seorang "Ece" itu mungkin sudah tidak ada lagi. Sebuah warung yang hanya punya satu meja dan berjualan di dekat kamar mandi (saat itu) barangkali akan sangat mudah kena gusur atau mundur sukarela.  Iseng-iseng saya memikirkan kapan terakhir kali makan bakso ikan itu. Apakah saat perpisahan SD -yang biasanya tidak terdapat pedagang di sana-, atau mungkin saat saya UNAS -yang biasanya saya dilarang keras jajan s...

Lelaki Hari Minggu

Dia datang setiap Minggu, masak air lalu buatkanku susu Dia datang setiap Minggu, di sebuah pagi dan memintaku matikan lampu Dia datang setiap Minggu, menanyakan kabar sekolahku lalu memberi beberapa lembar uang saku Dia datang setiap Minggu, menuntut keberadaanku di rumah yang sering kubiarkan lama menunggu Dia datang setiap Minggu, itulah yang tersisa dari Senin Selasa Rabu, serta Jumat, juga Sabtu Dia datang setiap Minggu, mengabdikan diri pada yang sering kali melempar hujat menggebu Dia datang setiap Minggu, hidupnya terus berperang melawan waktu yang kumiliki hanya sepertujuh Dia lelaki di hari Minggu, ayahku