Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dibuang Sayang

Hari-hari Menjadi Ibu

Hampir tujuh tahun menjadi ibu, sekarang jadi sadar bahwa perjuangan dan perjalanan yang luar biasa itu bukan sekedar jargon atau ungkapan klise. Di dua sampai tiga tahun pertama merasakan mengurus bayi hingga batita membuat aku sadar tentang: 1. Hal yang biasa terlihat mudah, ternyata luar biasa menantang Sebut saja, menyusui, menyuapi anak sampai bisa makan sesuai porsi, tetap tenang ketika mereka sakit, atau tidak menangis ketika ASI yang baru kita perah tumpah. Hal-hal tersebut tidak pernah terpikir akan menantang ketika aku belum merasakan sendiri. 2. Ibu merespon apa yang dia dengar dan dia baca dengan cara berbeda Aku akan terima saja kalau dibilang baper, tetapi memang setelah melewati banyak proses rasanya jadi ibu membuatku lebih thoughtful dalam berucap dan menulis. Karena ibu merasakan apa yang ia dengar dan ia baca dengan mendalam, sambil memutar kembali rekaman peristiwa yang ia alami. Hal ini tidak remeh, karena mengasah empati. Suatu skill yang penting dimiliki seseor...

Hidup yang Tak Semarak

Dari kecil saya hidup di rumah yang ramai bersama tiga saudara kandung, mama, dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika masih tinggal di Jogja, rumah kami berdekatan dengan simbah, pakdhe, dan budhe , sehingga sepi dan sendiri bukan hal yang biasa buat saya. Hal lain yang cukup dominan dalam keluarga saya adalah karakter super ekspresif. Bila sedang seru bercerita, mama saya bisa mencubit gemas lawan bicaranya. Begitu pun kalau ada anak bayi yang makannya banyak, pasti dengan ekspresif dibilang, “wah pintar” dengan mata berbinar dan nada agak meninggi. Ini bukan tulisan parenting , tentang bagaimana mengatasi anak susah makan atau pro dan kontra dalam memuji anak . Tradisi itulah yang membuat saya bisa dibilang orang yang sangat bersemangat dan selalu menunggu momen-momen bahagia dengan segala semaraknya. Barulah ketika mengenal Riski, saya paham bahwa hidup tak semarak itu bisa jadi menyenangkan. Suami saya ini cukup introvert sekalipun ia ju...

Rekomendasi yang Terabaikan*

Dalam film The Book Thief , diceritakan bahwa suatu pagi, Liesel, tokoh utama yang berusia tak lebih dari 9 tahun, melihat reklame di jalan dan bertanya kepada ayahnya, “ What’s an accountant ? ” . Dengan singkat sang ayah menjawab , “ Something we will never need ”. Pernyataan itu sangat kontradiktif dengan jalan cerita pada film The Shaws h ank Redemption yang mengisahkan si pemeran utama, Andy Dufesne (diperankan oleh Tim Robbins), yang mampu menarik simpati petugas penjara dan akhirnya terbebas dan  hidup sangat sejahtera setelah itu , karena kelihaiannya membuat dan menganalisis rencana keuangan. Kutub yang berlawanan pada dua cerita tersebut ada hubungannya dengan operasi tangkap tangan (OTT) pejabat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) beberapa pekan lalu. Setiap tahun BPK diaudit oleh kantor akuntan publik (KAP) yang diajukan oleh BPK dan Menteri Keuangan yang kemudian di...

NEW YORK (catatan perjalanan AS bagian 7 - akhir)

Persinggahan pertama dan terakhir saya adalah di kota New York. Kota favorit saya saat ini. Favorit banget ! Saya merasa semua hal disana terasa tepat. Dari tempat saya menginap, saya bisa melihat World Trade Centre  menjulang dengan adidaya-nya, AS yang dulu saya kenal. Walaupun tidak punya waktu untuk benar-benar seight seeing , saya bela-belain bangun subuh sebelum ke bandara supaya sempat lihat Wallstreet. Jalan itu sama sekali bukan dream working place saya, tetapi ada rasa  magis ketika melangkah di hadapan banyak kejadian besar dalam perekonomian dunia berlangsung. Di New York saya hanya sempat diskusi di Kantor Perwakilan BI dan pergi ke factory outlet di Woodburry (agak jauh sih dari New York). Dalam perjalanan ke Woodburry saya melewati Sungai Manhattan, Brooklyn Bridge, dan melihat lanskap New York dari kejauhan. Cantik sekali, saya sampai mau menangis. Bahkan matahari seolah selalu ingin bertengger di posisi terbaik untuk memberikan sinar paripurnanya. ...

Kaleidoskop Liburan Akhir Tahun Versi Ibu Agis: Mall, Hiburan Instan, dan Godaannya

Media sosial telah secara resmi membuat saya tertekan karena tidak punya agenda jalan-jalan di akhir tahun. Mungkin memang saya telat berencana, tetapi banyak alasan kenapa akhirnya memilih berada di Jakarta saat dunia maya sedang hingar-bingar oleh puluhan foto liburan. Pertama, persiapan sekolah. Lagi, lagi, dan lagi. Saya harus tes IELTS ulang karena sertifikat saya sudah basi padahal masih diperlukan untuk persyararatan visa (atau mendaftar sekolah lain, kalau masih tenaga). Begitupun Riski. Atas nama tes pada minggu pertama Januari nanti, tidak pas rasanya kalau kami mengurangi durasi belajar dengan berlibur di akhir tahun. Kedua, misi penghematan. Saya rasa dua kata itu sudah mewakili banyak penjelasan, sehingga tidak lagi perlu ditulis disini . Gara-gara seharian di rumah, pada long weekend hari Natal saya merasa amat sangat bosan. Ditambah, kalau sedang bosan belajar saya pasti buka instagram. Hari yang biasa saja seketika berubah jadi suram hanya karena merasa saya terper...

Kapan Hilangnya?

Pak polisi di hadapan menanyakan kapan KTP saya hilang. Untunglah setelah beberapa detik berlalu dia tidak melontarkan pertanyaan kedua (dalam prediksi saya), dimana KTP saya hilang. Keduanya adalah pertanyaan kurang berguna bagi siapapun yang kehilangan surat pentingnya. Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan siapapun, kehilangan juga bukan hal yang dapat dengan mudah kita tahu kapan dan dimana terjadi. Sekalipun kita merasa sedih karena perginya orang kesayangan, agaknya tetap sulit untuk tahu kapan rasa kehilangan itu bermula. Dan dimana dapat ditemukan hal yang membuat kita tak kehilangan lagi. Di pemakaman, di hadapan foto, atau di hamparan rerumputan halaman rumah tempat kami biasa bermain. Saya tidak akan menemukannya lagi. Bila terpaksa harus dijabarkan waktu yang menjadi batas antara rasa memiliki dan rasa kehilangan –selayaknya bila ditanyai polisi- jawabannya adalah malam hari. Karena setelah bangun di pagi hari kita akan menyadari bahwa yang terjadi bukanlah...

R.A. Kartini’s Comemmoration: What We Need Was Beyond the Traditional Dresses Carnival

Couple days before March 21, I went to one of traditional dress rental. On there, I found the rental was so full of moms fitting the costume to their children, while the kids seemed not focus and wanted to end that activity as soon as possible. Then I asked to the rental owner if the peak season is coming, and she answered definitely yes. We just got through commemoration of R.A. Kartini’s birthday (as known as Kartini), marked by the carnival of students wear traditional dress. Moreover, we would easily find most officers in all provinces over the country attempt to do so. I didn’t get the point why we have to commemorate Kartini’s fight with all those attributes, even men also wear the traditional dress on March 21. Is Kartini a designer of traditional dresses or something? I actually love the traditional dress all the way they are and also like how children wear them as a symbol to appreciate the culture, but I believe that there must be a better method to commemorate K...