Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Nationale

Bapak

Pagi ini berbeda dari biasanya, aku pergi ke kantor bersama Bapak. Obrolan tak terlalu santai mengalir menyenangkan, tentang yang sedang sering kita dengar dan baca di banyak tempat, kabinet baru. Bapak bukan orang yang sering muncul di hadapan publik sebagai seseorang karena sangat berpengaruh atas pembentukan kabinet atau salah satu nama yang digadang-gadangkan, tetapi dia tahu banyak tentang   hal yang tidak dapat disampaikan media. Ada gurat kecewa di sebagian besar komentarnya, aku pikir beberapa argumen di balik itu memang logis. Hal bernama kekecewaan tidak ia rasakan sendirian, ketika seorang koleganya harus pulang dari istana sore itu dengan kemeja putih, tanpa sempat berlari kecil saat dipanggil presiden. Kekecewaan juga dirasakan mereka yang telah berekspektasi punya pemimpin baru yang mumpuni namun yang datang justru jenis lainnya. Sedangkan aku, rasanya tak punya satu alasan pun untuk kecewa. Sebaliknya, aku punya satu alasan yang sudah lebih dari cukup un...

R.A. Kartini’s Comemmoration: What We Need Was Beyond the Traditional Dresses Carnival

Couple days before March 21, I went to one of traditional dress rental. On there, I found the rental was so full of moms fitting the costume to their children, while the kids seemed not focus and wanted to end that activity as soon as possible. Then I asked to the rental owner if the peak season is coming, and she answered definitely yes. We just got through commemoration of R.A. Kartini’s birthday (as known as Kartini), marked by the carnival of students wear traditional dress. Moreover, we would easily find most officers in all provinces over the country attempt to do so. I didn’t get the point why we have to commemorate Kartini’s fight with all those attributes, even men also wear the traditional dress on March 21. Is Kartini a designer of traditional dresses or something? I actually love the traditional dress all the way they are and also like how children wear them as a symbol to appreciate the culture, but I believe that there must be a better method to commemorate K...

Doa Malam

Aku ingin menjadi apa yang Dick Hartono pernah katakan, musafir yang mencari dan memberi arti kepada segala sesuatu yang dijumpainya. Tidak silau oleh apa yang nampak, tetapi menerangkan apa yang tersembunyi di belakang gejala-gejala yang dicerapnya dengan panca indera. Orang Jawa selalu suka klenik, dan malam ini ibu sedang bercerita tentang sakralnya 1 Sura (Muharram). Sebenarnya ini bukan inti dari ceritaku, pengantar saja, tentang kegiatan ibuku sebelum bapak pulang. Malam ini 60 hari sebelum aku lulus SMA, entah mau dibawa kemana cerita hidupku selanjutnya. Jadi satpam seperti bapak, tukang cuci seperti ibu, atau kerja keras untuk cari beasiswa lanjut sekolah S1. “ Nduk, kamu mau jadi apa kalo sudah dewasa?” suara ibu menyela ruang pikirku. “Jadi pejabat enak, Nduk… Kerjanya enteng, hidupnya sejahtera.” Lanjut bapak. Aku hanya bisa diam sambil lihat berita di televisi. Isinya sama, hanya beda kasus. Lagi-lagi ada saja yang tentang pejabat korupsilah, oportunis, dan lainnya. Seakan...

Memberi Secercah Cahaya

“Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tak bersuara dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku tepat pada saat itu. ( Helen Keller ) Kalimat itu merupakan kutipan dari ungkapan salah seorang wanita tuna rungu dan tuna netra asal Amerika yang hidup pada abad 18. Dengan pendidikan ia berhasil keluar dari belenggu keterbatasan yang menghujam jiwanya setiap detik. Jadilah ia wanita pertama peraih gelar sarjana dari perguruan tinggi terkemuka, Harvard University. Tak berbeda dengan keadaan fisik seorang Helen Keller, pada kehidupan rakyat kita, terutama bagi kelompok menengah ke bawah banyak terjadi kebutaan, ketulian, kebisuan, sampai kepincangan. Kebutaan itu ada karena ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan. Selanjutnya, mereka sulit mendengar atau mencerna tentang banyak fakta di negeri mereka sendiri karena minimnya konsumsi informasi. Keterbatasan itu membuat mereka menjadi bisu, tak tahu apa argumen yang tepat untuk membela hak, tak yakin pula suaranya didengar. Lalu, kepincang...

Cerdas Menilik Kebijakan

Kita terbiasa dididik dan hidup dengan pilihan yang longgar atau meringankan. Berbagai kebijakan diterabas dengan mencari solusi yang memudahkan. Lihat saja aturan three in one yang sebenarnya punya tujuan mengurangi kepadatan jalan dan polusi udara. Bukannya berusaha bergabung dengan mobil milik rekan, banyak orang berpikir praktis dengan membayar beberapa ribu rupiah untuk jasa joki. Jadilah aturan itu dianggap menyulitkan, dan sibuk ditentang. Tak terkecuali kebijakan kenaikan tarif dasar listrik yang jadi buah bibir beberapa pekan terakhir, protes berkembang, minta ampun agar tak ada aturan baru yang mengocek kantong rakyat lebih banyak lagi. Kebijakan kenaikan tarif listrik berkisar antara 6% sampai 18%, yang diatur sesuai dengan pemakaian daya. Keluhan datang dari pemakai daya kecil (rumah tangga) sampai pelanggan bisnis dan industri. Bagi pelanggan kelas industri, timbul kekawatiran meningkatnya beban biaya produksi. Kenaikan tersebut memberikan pilihan bagi perusahaan antara me...