Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Retorika Hujan

Hidup yang Tak Semarak

Dari kecil saya hidup di rumah yang ramai bersama tiga saudara kandung, mama, dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika masih tinggal di Jogja, rumah kami berdekatan dengan simbah, pakdhe, dan budhe , sehingga sepi dan sendiri bukan hal yang biasa buat saya. Hal lain yang cukup dominan dalam keluarga saya adalah karakter super ekspresif. Bila sedang seru bercerita, mama saya bisa mencubit gemas lawan bicaranya. Begitu pun kalau ada anak bayi yang makannya banyak, pasti dengan ekspresif dibilang, “wah pintar” dengan mata berbinar dan nada agak meninggi. Ini bukan tulisan parenting , tentang bagaimana mengatasi anak susah makan atau pro dan kontra dalam memuji anak . Tradisi itulah yang membuat saya bisa dibilang orang yang sangat bersemangat dan selalu menunggu momen-momen bahagia dengan segala semaraknya. Barulah ketika mengenal Riski, saya paham bahwa hidup tak semarak itu bisa jadi menyenangkan. Suami saya ini cukup introvert sekalipun ia ju...

Kaleidoskop Liburan Akhir Tahun Versi Ibu Agis: Mall, Hiburan Instan, dan Godaannya

Media sosial telah secara resmi membuat saya tertekan karena tidak punya agenda jalan-jalan di akhir tahun. Mungkin memang saya telat berencana, tetapi banyak alasan kenapa akhirnya memilih berada di Jakarta saat dunia maya sedang hingar-bingar oleh puluhan foto liburan. Pertama, persiapan sekolah. Lagi, lagi, dan lagi. Saya harus tes IELTS ulang karena sertifikat saya sudah basi padahal masih diperlukan untuk persyararatan visa (atau mendaftar sekolah lain, kalau masih tenaga). Begitupun Riski. Atas nama tes pada minggu pertama Januari nanti, tidak pas rasanya kalau kami mengurangi durasi belajar dengan berlibur di akhir tahun. Kedua, misi penghematan. Saya rasa dua kata itu sudah mewakili banyak penjelasan, sehingga tidak lagi perlu ditulis disini . Gara-gara seharian di rumah, pada long weekend hari Natal saya merasa amat sangat bosan. Ditambah, kalau sedang bosan belajar saya pasti buka instagram. Hari yang biasa saja seketika berubah jadi suram hanya karena merasa saya terper...

dua sebelas

bahagia dan sedih aku hari ini kamu makan kue kesukaanmu, merayaan satu hari lagi waktu berkurang takut tapi bosan kubayangkan hari ini bagaimana usia yang memendek akan membawamu pergi tanpa aba-aba dan   bagaimana bosannya kita bila harus hidup selamanya di bumi semu ini dua sebelas entah berapa kali lagi dua sebelas yang berjajar disambut tiup lilinmu entah apa yang kan terjadi di antara para dua sebelas mari rayakan ketidaktahuan yang membawa kita pada hidup hari ini seperti pertemuan kita sore itu di selasar, di depan papan pengumuman mari kita rayakan, hari hadirmu usah risau akan hal yang belum terjadi dan belum tentu mantramu kupandangi kalender, sebelas sebelas enam belas

Rahasia

Tak ada sore, dan udara menjadi segar Tak ada gelap, lalu mata enggan menatap Tak ada bintang mati, butiran pasir terbang ke langit Tak ada fajar, hanya remang malam semua telah hilang Terserap matahari Harum mawar membunuh bulan Rahasia tetap diam tak terucap Hanya sedang ingin menulis lirik lagu favorit beberapa hari ini. Mungkin secara keseluruhan lagu maknanya tidak secara eksplisit sesuai dengan suasana hati; tetapi melodi, judul, dan bagian awalnya cocok sekali. Kelelahan kadang mematikan, tetapi merasakan kesendirian sambil mendengar lagu ini ternyata sudah cukup jadi obat. Selamat hari Jumat, para pejuang. Setiap lelah pasti berujung...  Rahasia - Payung Teduh

Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari

Waktu aku berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku dari belakang Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan -Sapardi Djoko Damono untuk tidak selalu merasa benar dan harus menang :)

When We Believe

There always be an inconvenient morning when we feel so lazy to move, lazy to work, and forget to think positively. Oftentimes, I disregard much of the morning that filled by true joy, spirit, completed by sunrise and birdsong. Even, they are all there for free! The ups and downs of life never stop revealing their true identity. No need to worry, because Allah has written… So do not become weak (against your enemy), nor be sad, and you will be superior (in victory) if you are indeed (true) believers [Ali Imran-139] … so really, we don’t need to feel anxious, when we believe. Good morning!

Kapan Hilangnya?

Pak polisi di hadapan menanyakan kapan KTP saya hilang. Untunglah setelah beberapa detik berlalu dia tidak melontarkan pertanyaan kedua (dalam prediksi saya), dimana KTP saya hilang. Keduanya adalah pertanyaan kurang berguna bagi siapapun yang kehilangan surat pentingnya. Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan siapapun, kehilangan juga bukan hal yang dapat dengan mudah kita tahu kapan dan dimana terjadi. Sekalipun kita merasa sedih karena perginya orang kesayangan, agaknya tetap sulit untuk tahu kapan rasa kehilangan itu bermula. Dan dimana dapat ditemukan hal yang membuat kita tak kehilangan lagi. Di pemakaman, di hadapan foto, atau di hamparan rerumputan halaman rumah tempat kami biasa bermain. Saya tidak akan menemukannya lagi. Bila terpaksa harus dijabarkan waktu yang menjadi batas antara rasa memiliki dan rasa kehilangan –selayaknya bila ditanyai polisi- jawabannya adalah malam hari. Karena setelah bangun di pagi hari kita akan menyadari bahwa yang terjadi bukanlah...

Cinta Ideologis

S aya tidak sedang bercerita te n tang sebuah mahzab atau gagasan besar hingga membawa sebuah tulisan dengan embel-embel ideologis. Saya justru sedang ingin bercerita tanpa berpikir dan mengikuti kemana jari-jari ini akan menuntun bola mata. Tentang seseorang yang membuat saya bisa memikirkannya kapan saja. Ia dapat ditemukan di sela lagu-lagu favorit, dalam hembusan angin sore yang teduh, atau bahkan ketika lamunan saya dibangunkan oleh suara ukulele pengamen jalanan. Setiap kali bahagia atau sedih, saya tidak punya pertimbangan apapun untuk mengadu padanya. Walau tanggapannya tak selalu hangat, tetapi tidak pernah kapok untuk membajirinya dengan berbagai cerita panjang. Setiap harinya. Pada Rabu lalu saat membuka file chat history BBM beberapa tahun ke belakang, saya makin menyadari kedermawanannya. Dukungan, candaan, dan nasihat harian tulus yang sudah ada disana sejak saya masih egois dalam mencintainya.  Memori pun berputar mundur mengingat indahnya s...

Sebuah Tempat yang Jauh, Di Minang Sana (bagian pertama)

Bapak Asmi Ahmad, orang yang sama sekali tidak saya kenal. Ia pergi sebelum kami sempat bertemu. Mendadak ia membuat saya berpikir lama seraya menangis sesekali di pergantian tahun ini. Seorang calon insinyur dari Universitas Indonesia yang tidak punya kesempatan meraih gelar kesarjanaannya. Namun, ia patri kuat semangat bagi penerusnya untuk kembali ke kampus itu. Setiap pagi ia bangunkan Si Bungsu dengan suara cukup menggelegar, “Ayo bangun, bagaimana mau masuk UI kalau tidak biasa bangun pagi!” I a membangunkan dengan kalimat itu bahkan sejak Si Bungsu belum belajar tentang baca tulis. Bila ada lima soal latihan yang diberikan Bu Guru, Si Bungsu harus mengerjakannya ditambah lima soal lain. Ia tuntun anaknya untuk selalu memberikan lebih dari yang orang lain minta. Ia pergi cepat, beberapa tahun sebelum melihat keturunannya sempat berjas kuning. Pada 2008 janji Si Bungsu tunai, namanya dalam daftar mahasiswa UI. Meski demikian Si Bungsu pada akhirnya tidak sekali...