Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pelari

Hari-hari Menjadi Ibu

Hampir tujuh tahun menjadi ibu, sekarang jadi sadar bahwa perjuangan dan perjalanan yang luar biasa itu bukan sekedar jargon atau ungkapan klise. Di dua sampai tiga tahun pertama merasakan mengurus bayi hingga batita membuat aku sadar tentang: 1. Hal yang biasa terlihat mudah, ternyata luar biasa menantang Sebut saja, menyusui, menyuapi anak sampai bisa makan sesuai porsi, tetap tenang ketika mereka sakit, atau tidak menangis ketika ASI yang baru kita perah tumpah. Hal-hal tersebut tidak pernah terpikir akan menantang ketika aku belum merasakan sendiri. 2. Ibu merespon apa yang dia dengar dan dia baca dengan cara berbeda Aku akan terima saja kalau dibilang baper, tetapi memang setelah melewati banyak proses rasanya jadi ibu membuatku lebih thoughtful dalam berucap dan menulis. Karena ibu merasakan apa yang ia dengar dan ia baca dengan mendalam, sambil memutar kembali rekaman peristiwa yang ia alami. Hal ini tidak remeh, karena mengasah empati. Suatu skill yang penting dimiliki seseor...

EKONOMI DAN AKUNTANSI (catatan perjalanan AS bagian 3)

Selasa, 28 Februari, saya dan rombongan sudah berada di Denver untuk berdiskusi dengan profesor dari University of Denver. Siangnya kami menempuh perjalanan darat 40 km menuju diskusi lanjutan dengan University of Colorado Boulder. Kami mendiskusikan tentang perekonomian AS, khususnya di bidang moneter (perbankan, suku bunga bank sentral, dan capital stability ).  Selalu tidak mudah merelasikan bahasan yang ada di dunia moneter dan bank sentral dengan bidang keilmuan yang saya miliki, akuntansi. Sampai siang itu saya menyadari bahwa ilmu tidak boleh dikotak-kotakkan demikian. Ada kalanya kita memang perlu memasang batasan, untuk memastikan fokus yang diambil dalam mendalami ilmu. Tetapi saya sadar bahwa ketidakmampuan saya untuk menghubungkan adalah akibat ketidakmauan mendalami ilmu di luar akuntansi.  Ternyata kuliah mata kuliah ekonomi moneter 3 SKS yang saya ambil belum bisa memberikan bekal yang cukup untuk menjadi ahli di bidang akuntansi moneter (ada ya? haha...

PELAJARAN DARI THE FED ST. LOUIS (catatan perjalanan AS bagian 2)

Senin, 27 Februari 2017 kami berjalan santai menuju diskusi di The Federal Reserves Bank of St. Louis. Sejak malam sebelumnya rombongan saya tinggal di Hyatt Regency St. Louis, tak jauh dari perkantoran The Fed. Sekalipun berangkat dengan jalan kaki kami masih punya waktu untuk… foto-foto di loteng perkantoran demi mendapat pemandangan terbaik. Setelah masuk The Fed pun, beberapa dari rombongan (termasuk saya) juga masih foto-foto. Agak malu menceritakan keudikan ini, sampai kami ditegur staf keamanan dan dilarang ambil gambar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa area bank sentral seringkali disterilkan atau dijaga dengan pengamanan ketat, hanya saja saya sudah terlalu terbiasa dengan budaya di Bank Indonesia yang tidak se-strict itu. Selfie dari atas loteng Sedikit berbicara tentang substansi diskusi hari itu, kami bertemu dengan perwakilan dari banyak bagian di The Fed St. Louis. Diskusi dibuka oleh James Fuchs, yang membahas tentang pandangannya terhadap kondisi ...

24 JAM PERTAMA (catatan perjalanan AS bagian 1)

Dari banyak negara maju yang ada, Amerika Serikat (AS) adalah pilihan terakhir yang ingin saya kunjungi. Sejak masih remaja, negara-negara Eropa selalu jadi idaman dan impian. Mungkin karena saya mudah jatuh cinta dengan bangunan kuno dan puisi ; serta sejarah di balik karya-karya tersebut –yang kebanyakan berada di Eropa. Saat itu bagi saya AS (seperti julukannya) terlalu adidaya. Lihat saja film Hollywood yang hobi menampilkan lakon pahlawan super atau sosok perempuan yang sempurna from head to toe . Hal itu membuat saya merasa bahwa AS enggak aku banget, karena saya kurang suka sesuatu yang berlebiha n . Itulah mengapa saya selalu suka film Prancis yang mengalir dan kerap menampilkan alur dan tokoh yang penuh ketidaksempurnaan.  Meski demikian, jiwa suka gratisan saya tidak pandang bulu. Sejak dipilih untuk ikut dalam kunjungan kerja ke AS, saya sangat bersemangat . Semua pekerjaan terkait kunjungan kerja saya kerjakan dalam tempo sesingkat-singkatnya dan quality contr...

Kaleidoskop Liburan Akhir Tahun Versi Ibu Agis: Mall, Hiburan Instan, dan Godaannya

Media sosial telah secara resmi membuat saya tertekan karena tidak punya agenda jalan-jalan di akhir tahun. Mungkin memang saya telat berencana, tetapi banyak alasan kenapa akhirnya memilih berada di Jakarta saat dunia maya sedang hingar-bingar oleh puluhan foto liburan. Pertama, persiapan sekolah. Lagi, lagi, dan lagi. Saya harus tes IELTS ulang karena sertifikat saya sudah basi padahal masih diperlukan untuk persyararatan visa (atau mendaftar sekolah lain, kalau masih tenaga). Begitupun Riski. Atas nama tes pada minggu pertama Januari nanti, tidak pas rasanya kalau kami mengurangi durasi belajar dengan berlibur di akhir tahun. Kedua, misi penghematan. Saya rasa dua kata itu sudah mewakili banyak penjelasan, sehingga tidak lagi perlu ditulis disini . Gara-gara seharian di rumah, pada long weekend hari Natal saya merasa amat sangat bosan. Ditambah, kalau sedang bosan belajar saya pasti buka instagram. Hari yang biasa saja seketika berubah jadi suram hanya karena merasa saya terper...

Antara Mama dan Sri Mulyani

Hari ini, sambil mencari inspirasi untuk salah satu laporan, saya membaca artikel di Bisnis Indonesia tentang wawancara bersama Sri Mulyani mengenai outlook perekonomian Indonesia 2017. Isinya tidak perlu saya bahas disini. Setelah membaca artikel tersebut mata saya tertuju pada biodata beliau, lahir di Bandar Lampung 1962. Setahun lebih muda dari mama saya.  Di usia yang hanya terpaut setahun, kalau dilihat dari pencapaian karir dan pendidikan, Sri Mulyani menang telak. Pada 2004 beliau telah menjabat sebagai Kepala Bappenas, di saat yang sama mama saya menghabiskan waktunya untuk mengantar jemput saya dan Fida yang masih SMP. Ketika mama saya sedang sangat gamang memilih kebaya wisuda mana yang ingin dia kenakan pada acara kelulusan SMA anaknya, Sri Mulyani, sebagai Menko Perekonomian sedang berpusing-pusing dengan dampak gonjang-ganjing krisis Amerika Serikat. Mama saya sedang berjibaku dengan Agis yang berusia tiga bulan ketika Sri Mulyani menjalani tahun keenamnya men...

Dalaila Gisdara

Sebuah frase yang masih membuat saya sedikit geli tiap kali diucapkan, ketika kami ke klinik anak untuk imunisasi misalnya. Sebuah nama lengkap yang 100 persen dibuat oleh ayahnya, semudah mencuplik nama Dalai Lama dan Gusdur. Sejak awal kami berkomitmen untuk membuat nama yang sederhana dan Indonesia banget. Kendatipun demikian masih banyak yang bilang nama ini rumit dan berat. Yasudah, mudahnya panggil saja dia Agis. Agis punya wajah yang manis, entah, sampai sekarang masih dalam perdebatan mirip siapakah bayi ini. Saya suka sekali dengan senyumnya yang menyapa di pagi hari dan setiap malam sepulang saya dari kantor. Saya juga suka sekali dengan tangisnya saat minta minum atau merasa popoknya sudah tidak lagi nyaman. Saya menyukai tiap senti yang ada pada Agis, entah indah atau tidak. Kadang masih tidak percaya bahwa Agis adalah bagian dari saya, bahwa keberadaannya dimulai dari kehidupan saya.  Beberapa minggu setelah melahirkan Agis, saya sempat m...