Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Me and Him

Cara Berdoa

Ya Tuhan, ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Mungkin itulah doa pertama yang saya hapalkan (dan berusaha pahami) di waktu kecil. Doa yang bagi saya teramat indah, doa yang rendah hati, doa yang tidak egois. Seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa doa itu tidak melulu harus berbahasa Arab, tidak melulu harus seperti yang ada di buku doa. Seperti halnya kue ulang tahun, doa bisa dikustomisasi. Boleh dibuat sesuai selera dan kebutuhan. Beranjak remaja begitu banyak mimpi yang ingin saya gapai, dan untuknya saya selalu berdoa. Doa jadi bintang kelas, bisa masuk sekolah favorit, memenangkan lomba dengan hadiah menarik, diizinkan oleh ayah liburan ke luar kota, dan doa tendensius lainnya. Di usia dua puluh tahun doa saya menjadi makin dewasa (sepertinya), semacam ya Tuhan, bila memang jodoh maka dekatkanlah, bila memang bukan berilah petunjuk (atau jauhkanlah) . Tuhan me...

Keikhlasan Ibrahim

Saya pernah mengikuti sebuah workshop kesusastraan yang salah satu acaranya tentang bedah sebuah buku (yang saya lupa judulnya) karena penulis belum mempublikasikan buku dalam bahasa Inggris. Hanya tersedia yang berbahasa Norwegia, dan saya tidak sedikit pun memahami tentangnya. Intinya, buku itu berkisah tentang perjalanan seorang anak dan ibu menanti detik kematian. Kematian si anak. Baik genre maupun cerita di buku ini memang biasa saja. Tidak terlalu unik. Tetapi si penulis yang impresif membuat saya tertarik mengikuti bedah buku tersebut. Si penulis itu adalah ibu anak, yang sudah meninggal 7 tahun lalu. Sampul buku itu bergambarkan sepasang sepatu balet yang pitanya terjuntai seperti habis dipakai. Gambar itu sangat filosofis bagi sang ibu. Ia menggambarkan ‘siapa anakku’ di awal buku. Bahwa anaknya adalah remaja populer yang multi talenta, ia sangat sehat, ia penari balet yang tubuhnya sangat lentur. Gadis tersebut juga memiliki banyak teman yang rajin menjenguknya, dalam sehat ...

The Opening

In the night that surrounded by sorrow, I lay down in my bed, feel the comfort of soft sheet. My parents lived so far away from here, but I know they’re happy there, so it’s okay to stay without them. My little sister that lived here, in the same place, not talk too much with me frequently. I declare, silent is my best friend, at least for this couple weeks. Everything were blended together, recently. Like a big hurricane, like a soft flow that drag me away somewhere. My faith, aim, passion, happiness, pride, conciousness, wrecked. Altough cheessy, I’m not afraid to say that I had the worst part in my life. bitterness that I cannot spit, sound that can’t voiced, stertorous that cruel cannot be taken out. Like savor the deepest loneliness and emptyness. In my recent journey to west, but I’m not looking for that epic about ‘scripture’, I found some of my species that asked too much about anything, everything. Even about the world creature, Creator. Found an answer like count for maths an...