Langsung ke konten utama

Postingan

Kaleidoskop Liburan Akhir Tahun Versi Ibu Agis: Mall, Hiburan Instan, dan Godaannya

Media sosial telah secara resmi membuat saya tertekan karena tidak punya agenda jalan-jalan di akhir tahun. Mungkin memang saya telat berencana, tetapi banyak alasan kenapa akhirnya memilih berada di Jakarta saat dunia maya sedang hingar-bingar oleh puluhan foto liburan. Pertama, persiapan sekolah. Lagi, lagi, dan lagi. Saya harus tes IELTS ulang karena sertifikat saya sudah basi padahal masih diperlukan untuk persyararatan visa (atau mendaftar sekolah lain, kalau masih tenaga). Begitupun Riski. Atas nama tes pada minggu pertama Januari nanti, tidak pas rasanya kalau kami mengurangi durasi belajar dengan berlibur di akhir tahun. Kedua, misi penghematan. Saya rasa dua kata itu sudah mewakili banyak penjelasan, sehingga tidak lagi perlu ditulis disini . Gara-gara seharian di rumah, pada long weekend hari Natal saya merasa amat sangat bosan. Ditambah, kalau sedang bosan belajar saya pasti buka instagram. Hari yang biasa saja seketika berubah jadi suram hanya karena merasa saya terper...

Antara Mama dan Sri Mulyani

Hari ini, sambil mencari inspirasi untuk salah satu laporan, saya membaca artikel di Bisnis Indonesia tentang wawancara bersama Sri Mulyani mengenai outlook perekonomian Indonesia 2017. Isinya tidak perlu saya bahas disini. Setelah membaca artikel tersebut mata saya tertuju pada biodata beliau, lahir di Bandar Lampung 1962. Setahun lebih muda dari mama saya.  Di usia yang hanya terpaut setahun, kalau dilihat dari pencapaian karir dan pendidikan, Sri Mulyani menang telak. Pada 2004 beliau telah menjabat sebagai Kepala Bappenas, di saat yang sama mama saya menghabiskan waktunya untuk mengantar jemput saya dan Fida yang masih SMP. Ketika mama saya sedang sangat gamang memilih kebaya wisuda mana yang ingin dia kenakan pada acara kelulusan SMA anaknya, Sri Mulyani, sebagai Menko Perekonomian sedang berpusing-pusing dengan dampak gonjang-ganjing krisis Amerika Serikat. Mama saya sedang berjibaku dengan Agis yang berusia tiga bulan ketika Sri Mulyani menjalani tahun keenamnya men...

dua sebelas

bahagia dan sedih aku hari ini kamu makan kue kesukaanmu, merayaan satu hari lagi waktu berkurang takut tapi bosan kubayangkan hari ini bagaimana usia yang memendek akan membawamu pergi tanpa aba-aba dan   bagaimana bosannya kita bila harus hidup selamanya di bumi semu ini dua sebelas entah berapa kali lagi dua sebelas yang berjajar disambut tiup lilinmu entah apa yang kan terjadi di antara para dua sebelas mari rayakan ketidaktahuan yang membawa kita pada hidup hari ini seperti pertemuan kita sore itu di selasar, di depan papan pengumuman mari kita rayakan, hari hadirmu usah risau akan hal yang belum terjadi dan belum tentu mantramu kupandangi kalender, sebelas sebelas enam belas

Rahasia

Tak ada sore, dan udara menjadi segar Tak ada gelap, lalu mata enggan menatap Tak ada bintang mati, butiran pasir terbang ke langit Tak ada fajar, hanya remang malam semua telah hilang Terserap matahari Harum mawar membunuh bulan Rahasia tetap diam tak terucap Hanya sedang ingin menulis lirik lagu favorit beberapa hari ini. Mungkin secara keseluruhan lagu maknanya tidak secara eksplisit sesuai dengan suasana hati; tetapi melodi, judul, dan bagian awalnya cocok sekali. Kelelahan kadang mematikan, tetapi merasakan kesendirian sambil mendengar lagu ini ternyata sudah cukup jadi obat. Selamat hari Jumat, para pejuang. Setiap lelah pasti berujung...  Rahasia - Payung Teduh

Lamunan Jean (Bagian I)

Lorong yang senyap itu mendadak berisik, oleh suara sepatu Jean. Parasnya yang sangat Indonesia timur tampak lelah setelah seharian mengitari kota Malang mencari data. Jadi peneliti bukanlah sesuatu yang dipilih banyak karibnya, namun sebagai wanita –yang relatif muda- dan masih ingin mengejar mimpi idealnya, Jean menjalani perkerjaan ini. Jadi surveyor. Gaji minimum dengan tingkat keletihan maksimum. Entah kenapa ia tetap jalani, meski seringkali dia tidak terlalu menikmatimya. Atau bahkan sama sekali tidak mensyukurinya. Sesampainya di salah satu kamar hotel kelas melati tempatnya menginap, dia memeriksa telepon selular bututnya. Tujuh panggilan tak terjawab dari Jono. Secepat kilat ia tekan tombol “call” ke nomor Jono, tak diangkat. Waktu menunjukkan pukul 23.37, apa daya. Ia rebahkan tubuhnya di kasur beraroma debu. Ada gurat kesedihan di wajah Jean, ia begitu merindukan Jono. Meski bila sedang bersama mereka sering kali tak akur, sesepele urusan bisnis Jono yang tidak kunjung...

Dalaila Gisdara

Sebuah frase yang masih membuat saya sedikit geli tiap kali diucapkan, ketika kami ke klinik anak untuk imunisasi misalnya. Sebuah nama lengkap yang 100 persen dibuat oleh ayahnya, semudah mencuplik nama Dalai Lama dan Gusdur. Sejak awal kami berkomitmen untuk membuat nama yang sederhana dan Indonesia banget. Kendatipun demikian masih banyak yang bilang nama ini rumit dan berat. Yasudah, mudahnya panggil saja dia Agis. Agis punya wajah yang manis, entah, sampai sekarang masih dalam perdebatan mirip siapakah bayi ini. Saya suka sekali dengan senyumnya yang menyapa di pagi hari dan setiap malam sepulang saya dari kantor. Saya juga suka sekali dengan tangisnya saat minta minum atau merasa popoknya sudah tidak lagi nyaman. Saya menyukai tiap senti yang ada pada Agis, entah indah atau tidak. Kadang masih tidak percaya bahwa Agis adalah bagian dari saya, bahwa keberadaannya dimulai dari kehidupan saya.  Beberapa minggu setelah melahirkan Agis, saya sempat m...

Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari

Waktu aku berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku dari belakang Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan -Sapardi Djoko Damono untuk tidak selalu merasa benar dan harus menang :)