Langsung ke konten utama

Postingan

Bapak

Pagi ini berbeda dari biasanya, aku pergi ke kantor bersama Bapak. Obrolan tak terlalu santai mengalir menyenangkan, tentang yang sedang sering kita dengar dan baca di banyak tempat, kabinet baru. Bapak bukan orang yang sering muncul di hadapan publik sebagai seseorang karena sangat berpengaruh atas pembentukan kabinet atau salah satu nama yang digadang-gadangkan, tetapi dia tahu banyak tentang   hal yang tidak dapat disampaikan media. Ada gurat kecewa di sebagian besar komentarnya, aku pikir beberapa argumen di balik itu memang logis. Hal bernama kekecewaan tidak ia rasakan sendirian, ketika seorang koleganya harus pulang dari istana sore itu dengan kemeja putih, tanpa sempat berlari kecil saat dipanggil presiden. Kekecewaan juga dirasakan mereka yang telah berekspektasi punya pemimpin baru yang mumpuni namun yang datang justru jenis lainnya. Sedangkan aku, rasanya tak punya satu alasan pun untuk kecewa. Sebaliknya, aku punya satu alasan yang sudah lebih dari cukup un...

Ekonomi di Atas Kereta Listrik

Apa yang dikatakan gerbong-gerbong kereta listrik Jakarta sore? Mereka berbisik tentang kuli bangunan yang mual melihat tanggalan. Akhir bulan dompetnya mulai cekak, anak-anaknya meraung minta uang jajan dinaikan. Mereka tidak tahu sesuatu terjadi pada uang Bapaknya, uang yang bentuknya tak berubah tetapi nilainya terus berkurang. Apa yang dikatakan gerbong-gerbong kereta listrik Jakarta sore? Mereka bercerita tentang seorang wanita berblazer hitam di dekat pintu. Dengan gincu merah ia tampil menawan, jarinya ketak-ketik ponsel tiada henti. Sejenak matanya bertahan di sebuah foto yang diunggah temannya di path, pamer habis pergi ke Yunani. Si perempuan pun iri, dia risau akan destinasi liburannya yang jauh “tertinggal”. Foto itu membuatnya putar otak untuk mencapai destinasi yang bakal lebih mengundang decak kagum, walau harus kuras kocek sekalipun. Apa yang dikatakan gerbong-gerbong kereta listrik Jakarta sore? Mereka sampaikan tentang karyawan yang sudah s...

Cita-Cita

Banyak sekali perubahan cita-cita yang telah terjadi dalam hidupku, cita-cita masa TK yang berubah menjadi cita-cita masa SD, dan seterusnya hingga tamat kuliah. Begitu seterusnya selayaknya waktu yang bergulir, saat ini bahkan cita-cita dapat berubah dalam hitungan minggu bahkan hari. Tidak jarang aku merasa membanding-bandingkan diriku dengan orang lain yang kukira akan punya jalan hidup yang sama, sehingga perubahan cita-cita pun terjadi. Kenyataannya, kakak adik sekalipun seringkali punya jalan hidup yang berbeda, akhirnya aku membebaskan diri dari kegiatan membanding-bandingkan. Di titik itu rasanya lebih bebas, lebih mudah, dan lebih bahagia. Segalanya. Masih berbicara tentang cita-cita, beberapa tahun lalu aku merasa cita-cita merupakan suatu hal yang harus diteriakan secara repetitif. Seolah semua orang harus tahu semangat apa yang ada dalam tujuan hidupku. Sampai aku sadar bahwa aku bukan Bung Karno yang punya semangat marhaenisme, yang punya semangat patriotik untuk ...

R.A. Kartini’s Comemmoration: What We Need Was Beyond the Traditional Dresses Carnival

Couple days before March 21, I went to one of traditional dress rental. On there, I found the rental was so full of moms fitting the costume to their children, while the kids seemed not focus and wanted to end that activity as soon as possible. Then I asked to the rental owner if the peak season is coming, and she answered definitely yes. We just got through commemoration of R.A. Kartini’s birthday (as known as Kartini), marked by the carnival of students wear traditional dress. Moreover, we would easily find most officers in all provinces over the country attempt to do so. I didn’t get the point why we have to commemorate Kartini’s fight with all those attributes, even men also wear the traditional dress on March 21. Is Kartini a designer of traditional dresses or something? I actually love the traditional dress all the way they are and also like how children wear them as a symbol to appreciate the culture, but I believe that there must be a better method to commemorate K...

Kata-kata Pak Ila

Di dalam sebuah rapat, sekitar sebelas bulan lalu. “Pekerjaan itu bukan inspiring karena deskripsinya   tapi tergantung dari bagaimana kita melakukannya. Do it in a best way, then your job will be inspiring.” Dikatakan oleh Pak Ila, salah seorang bos di kantor lama. Pada detik itu pula, aku merasa pencarian ini selesai. Sampai di suatu titik aku kehilangan arah, lalu menemukan kata-kata yang sama dari Pak Ila –yang terekam kuat di memori-, dan kembali merasa selesai.