Langsung ke konten utama

Postingan

Cita-Cita

Banyak sekali perubahan cita-cita yang telah terjadi dalam hidupku, cita-cita masa TK yang berubah menjadi cita-cita masa SD, dan seterusnya hingga tamat kuliah. Begitu seterusnya selayaknya waktu yang bergulir, saat ini bahkan cita-cita dapat berubah dalam hitungan minggu bahkan hari. Tidak jarang aku merasa membanding-bandingkan diriku dengan orang lain yang kukira akan punya jalan hidup yang sama, sehingga perubahan cita-cita pun terjadi. Kenyataannya, kakak adik sekalipun seringkali punya jalan hidup yang berbeda, akhirnya aku membebaskan diri dari kegiatan membanding-bandingkan. Di titik itu rasanya lebih bebas, lebih mudah, dan lebih bahagia. Segalanya. Masih berbicara tentang cita-cita, beberapa tahun lalu aku merasa cita-cita merupakan suatu hal yang harus diteriakan secara repetitif. Seolah semua orang harus tahu semangat apa yang ada dalam tujuan hidupku. Sampai aku sadar bahwa aku bukan Bung Karno yang punya semangat marhaenisme, yang punya semangat patriotik untuk ...

R.A. Kartini’s Comemmoration: What We Need Was Beyond the Traditional Dresses Carnival

Couple days before March 21, I went to one of traditional dress rental. On there, I found the rental was so full of moms fitting the costume to their children, while the kids seemed not focus and wanted to end that activity as soon as possible. Then I asked to the rental owner if the peak season is coming, and she answered definitely yes. We just got through commemoration of R.A. Kartini’s birthday (as known as Kartini), marked by the carnival of students wear traditional dress. Moreover, we would easily find most officers in all provinces over the country attempt to do so. I didn’t get the point why we have to commemorate Kartini’s fight with all those attributes, even men also wear the traditional dress on March 21. Is Kartini a designer of traditional dresses or something? I actually love the traditional dress all the way they are and also like how children wear them as a symbol to appreciate the culture, but I believe that there must be a better method to commemorate K...

Kata-kata Pak Ila

Di dalam sebuah rapat, sekitar sebelas bulan lalu. “Pekerjaan itu bukan inspiring karena deskripsinya   tapi tergantung dari bagaimana kita melakukannya. Do it in a best way, then your job will be inspiring.” Dikatakan oleh Pak Ila, salah seorang bos di kantor lama. Pada detik itu pula, aku merasa pencarian ini selesai. Sampai di suatu titik aku kehilangan arah, lalu menemukan kata-kata yang sama dari Pak Ila –yang terekam kuat di memori-, dan kembali merasa selesai.

Hitungan Mundur

Menghitung mundur hari belum pernah semengharukan ini. Beberapa hari lalu aku bermimpi tentang selasar kampus yang diselimuti mendung, berjalan bersama beberapa sahabat menuju kantin sambil becanda mengingat tingkah konyol di kelas yang baru saja usai. Tiba-tiba pandanganku gelap, mata terbuka paksa, dan jam dinding telah menunjukkan garis lurus vertikal. Saatnya bersiap ke kantor. Dua puluh hari lagi. Aku bertanya pada Riski, bolehkan nanti pergi beberapa hari bersama teman-teman -setelah dua puluh hari dari sekarang-. Jawabannya tak penting, yang kupikirkan adalah bahwa semuanya tak akan lagi sama. Tiga hari lalu, sore yang cukup melelahkan. Sesampaiku di rumah langsung terhempaslah tubuh ini di sofa depan televisi. Di sampingku papa sedang duduk. Si ‘Lelaki Hari Minggu’ untuk belasan tahun lamanya, yang baru dua tahun ini bisa kutemui kapan saja. Di saat aku sudah tak lagi punya banyak waktu luang. Ingin sekali aku memeluknya seperti anak sekolah yang menangis karena dieje...

Konsistensi

Di sebuah warung kopi di Sarinah, sore itu saya sedang bercerita dengan Riski tentang banyak hal. Seperti biasa, topiknya tidak jauh dari keluhan pekerjaan dan kekhawatiran akan masa depan. Kisah klasik. Tidak berkesudahan. Ini semacam topik dua tahun lalu, tahun lalu, atau bulan lalu yang tak habis diceritakan. Di whatsapp, telepon, warung bubur ayam, sampai gerbong kereta. Kadang rasanya seperti kufur nikmat karena merasa begini. Saya merasa begitu lepas bercerita dengan Riski, seperti bisa berbicara tanpa harus memikirkan apa yang mesti dikatakan. Seperti bertanya tanpa takut dengan segala jawaban. Di suatu waktu dia mengatakan beberapa kalimat yang lebih dahsyat dari caramel macchiato yang saya minum sore itu. Bikin tak bisa tidur. “Ada satu kelemahanmu yang dari dulu enggak berubah. Kamu itu enggak konsisten orangnya. Entah belajar, menyelesaikan tulisan, atau diet sekalipun.” Saya nyengir, lalu merasa yang dikatakannya benar juga. Sulit sekali bagi saya melakukan sebuah ha...

Bertemu Laya Lagi

Empat buah balon silver sudah siap menyambut malam panjang ini, malam Minggu. Satu Februari, sehari setelah Laya ulang tahun. Uci dan Riski menunggu di ruang tamu, tak sabar mau berangkat. Apa daya, karena ini sebuah acara kejutan, kami harus mendatangi Laya dengan diam-diam. Saat itu Kaka dan Koko menjadi orang paling berjasa karena dengan ikhlas membantu kami untuk siapkan kejutan. Sampai di apartemen Laya kami bertiga sembunyi di salah satu kamar sambil cekikikan, tak lama terdengar suara gagang pintu –yang terkunci dengan kunci yang menggantung- disertai suara batuk-batuk Koko yang menjadi kode penting bagi kami. Agak lupa apa yang Laya katakan saat masuk ruangan, tak lama kami keluar dengan balon bertuliskan “Laya” dan sebuah kue tinggi kalori sambil menyanyi “Happy Birthday”. Laya teriak panjang. Dimulailah sesi peluk, tiup lilin, bagi-bagi kue, dan buka kado. Malam itu sungguh menyenangkan. Kami berlima –saya, Uci, Koko, dan Laya- bercerita banyak tentang pekerjaan, teman-t...

Prelude in E Minor

Sambil memutar Prelude in E Minor: Bella memintaku mengirim foto untuk kartu ucapan perpisahan Mbak Rizka, ia akan pergi dari kantor ini. “Aku lagi di jalan, kalau aku udah di kantor kukirim ya.” Kubuka facebook sebagai tempat yang menyimpan paling banyak foto. Sedikit pusing memilih foto mana yang aku aku kirimkan, ada yang tampak gemuk, tampak kumal, tidak menarik, padahal memang begitulah perawakanku sebetulnya. Kunyalakan iPod lalu kupilih Chopin Prelude in E minor, yang kuputar berkali-kali dikarenakan suasana hatiku sedang sendu. Sambil menarik kursor ke arah bawah kubuka foto-foto lama yang sampai aku sudah lupa kapan peristiwa di dalamnya terjadi. Tiba-tiba kutemukan fotoku tersenyum ceria di laboratorium komputer kampus saat membantu Pak Rimawan bereksperimen, ada pula foto saat tubuhku tersungkur di pelataran rumah Doyo Lama Papua, foto masak bersama teman-teman di rumah Gerry, dan lainnya. Semuanya ekspresi senyum. Entah apa yang kurasakan waktu itu, apakah memang bah...