Langsung ke konten utama

Postingan

Jakarta-Bogor

Maukah kamu hidup dengan caraku? Katakan, bagaimana caramu? Sesederhana tinggal di Jakarta dan pergi bekerja di Bogor. Becanda. Apa enaknya? Aku tahu Jakarta memang terlalu padat sekarang, tetapi ada satu hal yang tak dapat kamu abaikan. Bahwa perjalanan pulang dan pergi ke tempat bekerja setiap hari adalah hal yang paling membuat letih dan memakan banyak waktu. Lantas, apa bedanya dengan apa yang kamu tawarkan? Lihat kereta listrik itu, yang selalu penuh di pagi hari dari arah Bogor ke Jakarta. Di sore hari akan berbalik,   arah Jakarta ke Bogor jadi terlalu ramai sampai sesak. Coba bayangkan, bila kita berangkat ke Bogor di pagi hari dan pulang ke Jakarta di sore hari. Kereta yang melawan arus dari lalu lalang pekerja di sini hanya ditumpangi oleh sedikit orang, kadang hampir kosong. Bukankah ini menyenangkan? Aku pun yakin bahwa dengan melawan arus ini kita tak akan dekat dengan kelaparan. Setiap hari kita tetap dapat membeli roti sebanyak yang kamu m...

Cara Berdoa

Ya Tuhan, ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Mungkin itulah doa pertama yang saya hapalkan (dan berusaha pahami) di waktu kecil. Doa yang bagi saya teramat indah, doa yang rendah hati, doa yang tidak egois. Seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa doa itu tidak melulu harus berbahasa Arab, tidak melulu harus seperti yang ada di buku doa. Seperti halnya kue ulang tahun, doa bisa dikustomisasi. Boleh dibuat sesuai selera dan kebutuhan. Beranjak remaja begitu banyak mimpi yang ingin saya gapai, dan untuknya saya selalu berdoa. Doa jadi bintang kelas, bisa masuk sekolah favorit, memenangkan lomba dengan hadiah menarik, diizinkan oleh ayah liburan ke luar kota, dan doa tendensius lainnya. Di usia dua puluh tahun doa saya menjadi makin dewasa (sepertinya), semacam ya Tuhan, bila memang jodoh maka dekatkanlah, bila memang bukan berilah petunjuk (atau jauhkanlah) . Tuhan me...

Dua Ribu Dua Belas

Suara terompet dan kembang api menyeruak di luar rumah tepat pada saat saya menuliskan ini. Sesuatu berangka belakang 13 segera datang dengan segala resolusi yang harus ditelannya mentah-mentah pagi ini. Resolusi orang sedunia. Bukannya saya tidak peduli pada masa depan dan resolusi-reaolusi untuk tahun baru, namun kali ini menuliskan tentang masa yang telah dilalui terasa lebih menarik. Setidaknya sebelum mengucapkan selamat tinggal pada 2012. Butuh waktu beberapa saat untuk kembali mengingat kejadian yang mengisi 2012 lalu. Hal-hal yang bombastis tentu saja dengan mudah diingat karena sudah terlanjur menempel di otak. Pada 2012, setidaknya saya memiliki tiga buku catatan pribadi yang bila dibaca akan bikin senyum-senyum sendiri, satu di antaranya adalah buku catatan pekembangan skripsi. Dan di sanalah saya menemukan serangkaian kejadian biasa-biasa saja yang justru lebih menggigit saat diingat kembali. Awal 2012 beberapa kawan saya berangkat magang dan kami mulai menyadari betap...

Bandara dan Awal

Saya berkali-kali mengantar teman ke bandara untuk pergi entah keluar kota, keluar pulau, atau keluar negeri sekalipun. Selalu merasa berat melepaskan seseorang untuk pergi, tapi tidak pernah sesedih ini. Kesedihan perpisahan SD dapat tergantikan setelah masa orientasi Siswa SMP tiba. Sama halnya dengan ketika beranjak memasuki masa SMA dan kuliah. Selalu ada “gerombolan baru” yang mampu memberikan kebahagiaan di setiap tahap baru. Dan saya merasa tidak bergeser kemanapun karena kami akan dapat bertemu teman lama kapan saja dalam tempo 30 menit. Kami sama-sama tidak pergi terlalu jauh. Kali ini, fase hidup sudah benar-benar berbeda dari masa sekolah. Saya dan teman-teman sedang harus melempar jangkar masing-masing. Hanya Tuhan yang tahu di mana jangkar akan menacap untuk melabuhkan perahu. Dunia kerja menggiring masing-masing dari kami akan pergi jauh. Saya berkali-kali mengantar teman ke bandara, melepas kepergian tapi tidak sampai mengeluarkan air mata. Pagi ini, s...

Lembar Persembahan

Bismillahirrahmanirrahim. Ucapan tanpa batas untuk Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas setiap nafasku dan keberkahanNya. Shalawat serta salam bagi junjunganku, Nabi Muhammad SAW atas teladannya.  Terima kasih kepada papa dan mamaku, Imam Anshori Saleh dan Dies Fatmawati atas cinta dan doa tulus yang tak pernah putus. Kepada adikku Hafida Fahmiasari , terima kasih telah banyak mengajariku -yang notabene lebih tua darimu-, pelajaran berharga untuk bertahan dalam segala kondisi. Keluarga kecil Taufika Rahardini , Holly Bilowo , Muhammad Fatah Azizi, dan Muhammad Fatih Al-Fadly , yang mewarnai hidupku dan senantiasa menghibur di saat penat. Kepada para sahabat terbaik, Stephanie Hadylaya, Karlina Aucia Augusta, Aldiena Bunga Fadhila, Giovanni Fadhillah Empel, Maharsi Wahyu Kinasih, Masagung Suksmonohadi, Danang Satriaji, Ninda Sasmita Putri, Amalia Insan Kamil, Bella Oktofira, Debbie Naomi Edriani, Emil Yaditya, Aulia Nur Rakhmawati, Andika Jaffiani Lestari, Poppy Danast...

Penghujung Wajib Belajar 16 Tahun

Di sebuah hari yang terlupa namanya pada 1996, perjalanan wajib belajarku dimulai. Beginilah cuplikan selebrasi 16 tahun kemudian. Menanti kelulusan-kelulusan lanjutan. *foto diambil oleh: Riski Raisa Putra, Adlan Syahmi, Rahmia Hasniasari

Jalan-jalan

Macet seperti biasa masih menghiasi jendela kantor yang menyuguhi pemandangan jalanan Jakarta. Dua menit, lima menit, setengah jam. Rasanya sama saja untuk beranjak sekarang atau harus menunggu agak lama, otak sudah gusar. Dia minta pulang. Mari kita jalan-jalan! Jalan pulang yang semestinya hanya berjarak Seturan-Jalan Magelang berubah jadi Jogja-Karanganyar. Dibumbui dengan berhenti lama-lama dan pengap dalam busway yang penuh sesak.  Tak ada satu perjalanan pun yang tak menyenangkan. Aku melangkah ke kursi dekat supir, hanya untuk melihat selama apa dia akan bersabar karena jalurnya selalu diserobot orang. Sesekali ia melirik lewat spion tengah, hanya untuk memastikan banyak nyawa yang menumpang. Banyak orang yang sedang ditunggu di rumah masing-masing sedang ia bawa. Lalu si juru mudi menghela napas. Sabar telah menjadi pilihan pertama sekaligus terakhir baginya. Setiap hari. Di busway aku kehilangan efek grafitasi, karena tiap aku doyong tubuhku akan terdorong teg...