Langsung ke konten utama

Postingan

No More than 250 Words

20 years and more means 7300++ I lived in the earth, it also tells that there's 175.200 hours, 10.512.000 minutes and 6.3072 e8 said my calculator. Don't know how to write on those all story, happiness, sorrow, tears, and sweat. And when I challenged by 'tell about you, your interest and activity in maximum 250 word', this is the super mini about me : If I’ve to represent myself into a single word, I choose ‘literature’. My father’s a journalist, when I was child he always told about a many issue that happen in my country. I grew up in his skeptical mindset. In elementary school I love a stage life. I often join a drama and reading poem competition, on those I learn to be a confident person. Then I also join scout, the important point I got were about independency and survived in a limitation. I’m interested in human social life. I joined a student press organization in a high school, so I can speak my opinion to others. I enjoy the process of thinking, read any source ...

Kepada Hafida

Kepada Hafida : Terima kasih ibu, karena lahirkan adik.. Terima kasih adik karena kau menemaniku, Waktu itu aku masih terlalu kecil dan polos, tak ingat betul kapan kamu lahir. Tahu-tahu kamu selalu ada menemani aku bermain. Waktu itu aku masih penakut, lalu kita kemana-mana bersama dan setiap malam bercerita tentang cita-cita aku dan kamu yang digantungkan tinggi. Terima kasih ayah, karena membuatku dan adik menciptakan cita-cita dan memeliharanya. Dengan semua cerita-cerita tentang indahnya Sungai Nil, sampai literatur ribuan halaman, membawa kami ingin pergi kesana. Mengupas isi dunia. Adik, usiamu berkurang. Di hari ulang tahunmu, aku hanya dapat menjabat tangan, tanpa sebungkus pun bingkisan. Banyak waktu aku canggung menyampaikan betapa aku menyayangimu. Banyak saat dimana aku sibuk dengan egoku dan tak menengokmu. Dalam jeda waktu itu, di setiap sujudku selalu kusebut namamu… Selamat datang di gerbang yang semakin terbuka lebar, kedewasaan. Saat kita kecil, kamu dan aku ingin ce...

Hubungan dan Tong Sampah

Lewat layar televisi, media cetak, dan di dalam forum-forum kampus kita sering melihat seseorang yang tampak kenabi-nabian atau setengah dewa. Seseorang yang memiliki manajemen ekspektasi baik, tak banyak menuntut dari perilaku dan pencitraan orang lain. Saya dapat dengan mudah kagum dengan seseorang yang pandai mengaji dan bagus bacaan sholatnya. Mereka yang pandai berorasi pun sering dielu-elukan disana sini. Banyak pula di antaranya yang benar-benar pandai bersosialisasi, sehingga siapapun nyaman berada di sekelilingnya. Cantik, pandai, dan rendah hati. Sebaliknya, tampan, santun, dan cerdas. Tak jarang ditemui orang-orang macam itu dalam lingkungan kita. Kadang saya bertanta-tanya, bagaimana bisa mereka se-luar biasa itu. Apakah peradaban sudah kian maju, seakan manusia tak ada anomalinya. Berbicara mengenai hubungan antara pria dan wanita. Penjajakan, berpacaran, atau ta'aruf, atau sebutan-sebutan lain yang dirasa pantas. Beberapa orang mengalami banyak kejadian serupa. Antara...

Berbicara

Hal yang paling saya suka adalah saat seseorang dapat menghargai sesama apa adanya. Tanpa pujian yang berlebihan, tanpa ejekan yang tak perlu. Sungguh senang saat kejujuran yang berkata. " Rahmia. Kata-katamu bernyawa, seperti tulisanmu yang bernyawa. " ASP Terima kasih. Saya akan terus menulis. Apa yang saya suka, apa yang saya harus. Untuk siapapun yang ingin baca. Kamarku, 2:22 a.m. 16 Agustus 2010

Mengadu

Terkadang manusia lelah menangis. Lelah menghamba pada kesenduan. Ia hanya butuh suatu gerakan kecil, yang tak berdampak apapun. Ia hanya ingin mengadu. Namanya Galuh. Buruh bangunan yang bekerja di bangunan tepi jalan besar menuju gang rumahku. Dia sama sekali tak cantik. Bahkan tak menarik. Bahkan mengerikan. Wajahnya bekas kebakaran di pipi kiri. Tadinya ia hidup dengan keadaan yang cukup baik, sampai suatu ketika api hampir saja melahap tubuh ibunya dan ia dengan segala kekuatan ingin menyelamatkan. Di saat yang sama ayahnya tiada. Karena si api. Kata Pak Jarwanto, pemilik rumah yang sedang dibangun, Galuh walaupun seorang wanita, betapa kuat bekerja. Ibu dari empat anak yang tinggal di desa beberapa kilometer dari rumahku. Bibir galuh berbentuk huruf ‘u’ terbalik. Aku kira dia wanita yang hidupnya penuh lara. Suaranya luar biasa lembek. Kadang aku geram mendengar gaya dia bicara. Lemah. Dan tak menarik. Aku sungguh tak suka. Tempo hari ibuku bercerita, Galuh tak pernah absen datan...

Memberi Secercah Cahaya

“Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tak bersuara dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku tepat pada saat itu. ( Helen Keller ) Kalimat itu merupakan kutipan dari ungkapan salah seorang wanita tuna rungu dan tuna netra asal Amerika yang hidup pada abad 18. Dengan pendidikan ia berhasil keluar dari belenggu keterbatasan yang menghujam jiwanya setiap detik. Jadilah ia wanita pertama peraih gelar sarjana dari perguruan tinggi terkemuka, Harvard University. Tak berbeda dengan keadaan fisik seorang Helen Keller, pada kehidupan rakyat kita, terutama bagi kelompok menengah ke bawah banyak terjadi kebutaan, ketulian, kebisuan, sampai kepincangan. Kebutaan itu ada karena ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan. Selanjutnya, mereka sulit mendengar atau mencerna tentang banyak fakta di negeri mereka sendiri karena minimnya konsumsi informasi. Keterbatasan itu membuat mereka menjadi bisu, tak tahu apa argumen yang tepat untuk membela hak, tak yakin pula suaranya didengar. Lalu, kepincang...

Cerdas Menilik Kebijakan

Kita terbiasa dididik dan hidup dengan pilihan yang longgar atau meringankan. Berbagai kebijakan diterabas dengan mencari solusi yang memudahkan. Lihat saja aturan three in one yang sebenarnya punya tujuan mengurangi kepadatan jalan dan polusi udara. Bukannya berusaha bergabung dengan mobil milik rekan, banyak orang berpikir praktis dengan membayar beberapa ribu rupiah untuk jasa joki. Jadilah aturan itu dianggap menyulitkan, dan sibuk ditentang. Tak terkecuali kebijakan kenaikan tarif dasar listrik yang jadi buah bibir beberapa pekan terakhir, protes berkembang, minta ampun agar tak ada aturan baru yang mengocek kantong rakyat lebih banyak lagi. Kebijakan kenaikan tarif listrik berkisar antara 6% sampai 18%, yang diatur sesuai dengan pemakaian daya. Keluhan datang dari pemakai daya kecil (rumah tangga) sampai pelanggan bisnis dan industri. Bagi pelanggan kelas industri, timbul kekawatiran meningkatnya beban biaya produksi. Kenaikan tersebut memberikan pilihan bagi perusahaan antara me...